Nuzulul Quran, Jokowi Bicara Kebinekaan dan Gebuk Komunisme

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Jokowi tertawa ketika memberikan pertanyaan nama-nama suku di Indonesia kepada santri saat melakukan kunjungan di Pondok Pesantren Buntet, Kabupaten Cirebon, 13 April 2017. Presiden juga menghadiri peletakaan batu pertama Auditorium Mbah Muqoyyim. ANTARA/Oky Lukmansyah

    Presiden Jokowi tertawa ketika memberikan pertanyaan nama-nama suku di Indonesia kepada santri saat melakukan kunjungan di Pondok Pesantren Buntet, Kabupaten Cirebon, 13 April 2017. Presiden juga menghadiri peletakaan batu pertama Auditorium Mbah Muqoyyim. ANTARA/Oky Lukmansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Banyak hal disampaikan Presiden Joko Widodo atau Jokowi dalam perayaan Nuzulul Quran 1438 Hijriah di Istana Kepresidenan, Senin malam, 12 Juni 2017. Salah satu yang ia tekankan terkait pemberantasan hal-hal yang menghalangi Indonesia untuk maju,

    "Pemerintah terus fokus untuk memerangi kemiskinan, memberantas radikalisme, memberantas terorisme, dan menggebuk komunisme," ujar Presiden Jokowi di Istana Kepresidenan dalam peringatan Nuzulul Quran.

    Baca juga:

    Malam Nuzulul Quran, Istana Jokowi 'Diduduki' Para Santri  

    Presiden Joko Widodo menjelaskan, hal-hal tersebut perlu diberantas untuk mempermudah kerja pemerintah mewujudkan ekonomi yang berkeadilan bagi seluruh masyarakat. Lagipula, menurut Presiden Joko Widodo, hal-hal tersebut berpotensi memecah belah di mana Al-Quran justru mengajarkan umat Islam untuk Ta'awun atau bekerja sama.

    "Al-Quran juga mengajarkan kita untuk bekerja keras, mengubah nasib, mengubah nasib bangsa kita," ujar Presiden Joko Widodo. Beberapa kerja keras yang disebutkan Presiden Joko Widodo adalah pembangunan infrastruktur, pembagian aset, serta pengembangan ekonomi umat.

    Baca pula:

    Acara Nuzulul Quran di Istana, dari Lomba MTQ sampai Tarawih

    Adapun hal terakhir yang ditekankan Presiden Jokowi dalam peringatan Nuzulul Quran di Istana Negara tersebut adalah kebinekaan. Ia menegaskan bahwa Indonesia terdiri atas berbagai suku, ras, agama, dan golongan yang harus terus dijaga dan tak boleh terpecah belah.

    "Hal itu merupakan anugerah Allah yang diberikan kepada kita dan kita wajib merawat apa yang sudah menjadi anugerah dari Allah. Kita wajib merawat Bhineka Tunggal Ika," ujar Jokowi.

    ISTMAN MP


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kerusuhan Manokwari, Bermula dari Malang Menjalar ke Sorong

    Pada 19 Agustus 2019, insiden Kerusuhan Manokwari menjalar ke Sorong. Berikut kilas balik insiden di Manokwari yang bermula dari Malang itu.