Bangun Industri Hilir Alumina, Gubernur Teken MOU dengan Dirut Inalum

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bangun Industri Hilir Alumina, Gubernur Teken MOU dengan Dirut Inalum

    Bangun Industri Hilir Alumina, Gubernur Teken MOU dengan Dirut Inalum

    INFO NASIONAL - Rencana PT Indonesia Asahan Aluminium atau Inalum (Persero) untuk berinvestasi di Kalimantan Utara kian mendekati kenyataan. Nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MOU) investasi Inalum di Kalimantan Utara telah ditandatangani Gubernur Kalimantan Utara Irianto Lambrie dan Direktur Utama (Dirut) PT Inalum (Persero) Winardi Sunoto di A Sing Sing So Hotel Niagara Parapat, Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, Selasa, 6 Juni 2017.

    Gubernur menegaskan agar MOU dengan badan usaha milik negara ini tak sekadar komitmen, tapi harus direalisasikan dalam kegiatan nyata dengan penjadwalan yang jelas. “Segala hal yang perlu didiskusikan harus segera disampaikan kepada kami guna dibahas bersama sehingga dapat diperoleh kesepahaman. Intinya, siapa bergerak lamban, pasti kalah dan tak berdaya saing,” ujarnya.

    Inalum—sejak diambil alih Pemerintah Indonesia pada 1 November 2013—ditargetkan mampu meningkatkan kapasitas produksi, yang selama ini 260 ribu ton per tahun, menjadi 500 ribu ton pada 2021, lalu menjadi 1 juta ton pada 2025. Sejak 2016, Inalum juga resmi memproduksi turunan alumina berupa aluminium alloy dan billet. Mulai tahun ini, Inalum diminta berinvestasi di industri hilir alumina sehingga akan lebih banyak lagi produk turunan yang akan dihasilkan.

    Untuk memenuhi target tersebut, Inalum harus merambah daerah lain karena perusahaan ini tidak mungkin lagi membangun pembangkit atau industri hilir di Sumatera Utara. Sehingga Kalimantan Utara pun menjadi sasaran pengembangan industri hilir alumina pada 2021-2025.

    Kalimantan Utara memiliki potensi tenaga listrik hingga 20 ribu Megawatt (MW) dari sungai-sungai yang mengalir di daerah tersebut. Dengan potensi ini, kata Irianto, Kalimantan Utara tidak hanya sanggup menjadi penyedia listrik di Indonesia, tapi juga di Asia, terutama Malaysia, Brunei Darussalam, dan Filipina Selatan.

    Daya terbesar disumbang Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Sungai Kayan, yaitu sekitar 9 ribu MW. Pembangunan PLTA ini sudah dimulai pada 18 Januari 2014 oleh PT Kayan Hydro Energy (KHE) dengan investor dari Republik Rakyat Tiongkok.

    Irianto mengatakan ketersediaan pasokan energi listrik, yang memadai dan andal, menjadi syarat mutlak kesuksesan dan kesinambungan berbagai hal yang diperlukan untuk kemajuan sebuah daerah. “Kalimantan Utara memfokuskan diri untuk mengembangkan sektor energi, industri, dan infrastruktur lain sebagai pendukung utama pengembangan kedua sektor itu,” katanya.

    PLTA Kayan, yang akan mendukung pengembangan pemanfaatan bahan baku alumina oleh Inalum, pada tahap I dicanangkan mampu menyediakan daya 900 MW. Irianto menargetkan pembangunan PLTA tahap I bisa selesai dalam waktu 4-5 tahun.

    Winardi mengatakan ketersediaan energi listrik menjadi kunci utama rencana investasinya membangun industri hilir alumina. Pasalnya, industri tersebut membutuhkan listrik yang sangat besar. Untuk memproduksi 1 ton aluminium ingot, dibutuhkan tenaga listrik sekitar 400 ribu kWh. “Intinya, keberadaan dan ketersediaan energi listrik menentukan kapan mulai beroperasinya pabrik pengolahan alumina di Kalimantan Utara. Karena itu, PLTA Kayan sangat diharapkan dapat segera terealisasi,” ujarnya.

    Sebagai langkah awal, Inalum akan menyediakan kantor perwakilan serta menurunkan tim untuk melakukan pre-feasibility study pembangunan industri hilir alumina di Kalimantan Utara.(*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polusi Udara Pembunuh Diam-diam

    Perubahan iklim dan pencemaran udara menyebabkan lebih dari 12,6 juta kematian per tahun. Jumlah korban jiwa ini belum pernah terjadi sebelumnya.