Waspada Teroris, Gubernur Kaltim: Marawi - Maratu Cuma 3,5 Jam

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anggota tentara menggendong seorang anak yang baru saja diselamatkan dari rumahnya, saat konflik antara tentara Filipina melawan kelompok Maute di Marawi, Filipina, 31 Mei 2017. REUTERS

    Anggota tentara menggendong seorang anak yang baru saja diselamatkan dari rumahnya, saat konflik antara tentara Filipina melawan kelompok Maute di Marawi, Filipina, 31 Mei 2017. REUTERS

    TEMPO.CO, Samarinda - Gubernur Kalimantan Timur Awang Faroek Ishak memastikan provinsinya juga turut waspada masuknya teroris, pelarian dari Marawi, Pulau Mindanau, Filipina ke Indonesia. Hal itu ia sampaikan ketika bersama Panglima TNI Komando Daerah Militer VI Mulawarman Mayor Jenderal Sonhadji.

    “Kaltim juga harus waspada, dari Filipina ke Pulau Maratu (Kabupaten Berau), hanya butuh 3,5 jam jalur laut,” kata Awang Faroek, di Samarinda, Selasa, 6 Mei 2017.

    Sebelumnya, Mayjen Sonhadji juga tak memungkiri hal itu akan terjadi, terutama jika milisi Marawi kehabisan logistik.
    Baca : ISIS, Abu Sayyaf, dan Maute Mau Dirikan Provinsi ISIS di Mindanao

    “Mereka itu kelompok Maute yang bergabung dengan sisa-sia pelarian dari timur tengah -jaringan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), dimana saat ini Tentara Filipinan lagi gencar mendesak dan menyerang mereka,” kata Mayjend Sonhadji di Samarinda, Selasa 6 Juni 2017.

    “Ada saatnya mereka akan butuh logistik dan akan kekurangan karena terus digempur. Kemana larinya? Kalau tidak ke kita (Kalimantan) atau ke Maluku Utara,” ujar dia.

    Untuk mengantisipasi pelarian kelompok Maute yang diketahui berafiliasi dengan ISIS dari Pulau Mindanau ke Indonesia, TNI melakukan penjagaan dan pengawasan ketat di perbatasan kedua negara.

    “Kita tingkatkan intensitas patroli. Sweeping jalur tikus (di wilayah perbatasan Indonesia Filipina) terutama kapal speedboat yang melintas,” kata Sonhadji.
    Simak juga : Dampak Perang, Kehancuran Marawi Mirip Kota di Suriah

    Dekatnya jarak antara Marawi dan Indonesia, menurut Mayjend Sonhadji hanya berkisar 3,5 jam saja melalui jalur laut. Untuk itu Pangdam Mulawarman memastikan ada peningkatkan intensitas patroli, sinergi antar instansi untuk melakukan pemeriksaan ketat termasuk di Pelabuhan di wialayah Perbatasan.

    ”Seluruh aparat Kodim hingga babinsa harus memonitor desa masing-masing untuk mempersempit ruang gerak adanya kemungkinan penyusup masuk,” kata Sonhadji.
    Hingga saat ini, ada 700 personil TNI di wilayah perbatasan, tepatnya di Kalimantan Utara. Belum ada penambahan personil, hanya peningkatan aktivitas penjagaan untuk antisipasi masuknya milisi ISIS dari Marawi.

    SAPRI MAULANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    RAPBN 2020, Ada 20 Persen untuk Pendidikan, 5 untuk Pendidikan

    Dalam RAPBN 2020, pembangunan Indonesia akan difokuskan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Berikut besaran dan sasaran yang ingin dicapai.