Kapolda Babel Bikin Buku Panduan Cegah Radikalisme dan Terorisme  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Puluhan ribu warga Sukoharjo yang didominasi pelajar SLTA dan orgnisasi masa berkumpul di Alun-alun Satya Negara, Sukoharjo, 29 Juli 2016. Dengan dipimpin oleh Bupati Sukoharjo, Wardoyo Wijaya mereka mendeklarasikan anti radikalisme dan mengecam praktik bom bunuh diri di Mapolresta Solo jelang Lebaran lalu. Acara deklarasi tersebut juga dicatat oleh Museum Rekor Indonesia (Muri) dengan kategori peserta terbanyak yaitu 26.955 orang. Bram Selo Agung/Tempo

    Puluhan ribu warga Sukoharjo yang didominasi pelajar SLTA dan orgnisasi masa berkumpul di Alun-alun Satya Negara, Sukoharjo, 29 Juli 2016. Dengan dipimpin oleh Bupati Sukoharjo, Wardoyo Wijaya mereka mendeklarasikan anti radikalisme dan mengecam praktik bom bunuh diri di Mapolresta Solo jelang Lebaran lalu. Acara deklarasi tersebut juga dicatat oleh Museum Rekor Indonesia (Muri) dengan kategori peserta terbanyak yaitu 26.955 orang. Bram Selo Agung/Tempo

    TEMPO.COPangkalpinang - Kepala Kepolisian Daerah Kepulauan Bangka Belitung Brigadir Jenderal Anton Wahono membuat buku panduan bagi masyarakat agar terhindar dari pengaruh buruk radikalisme dan terorisme. Buku panduan tersebut akan diberikan kepada anggota Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) untuk disampaikan ke masyarakat.

    "Nanti anggota Bhabinkamtibmas yang akan mensyiarkan isi buku ini kepada masyarakat. Masyarakat harus paham apa itu radikalisme dan apa terorisme serta dampaknya. Kami ingin membantu masyarakat terhindar dari paham yang merusak persatuan tersebut," ujar Anton kepada wartawan seusai buka puasa bersama dengan masyarakat di Masjid Jamik Pangkalpinang, Senin malam, 5 Juni 2017.

    Baca juga: 
    Begini Cara Mencegah Penyebaran Radikalisme di Masjid

    Menurut Anton, saat ini mulai berkembang isu-isu yang cenderung memecah belah dengan menjadikan agama komoditas untuk hal yang bersifat politik. Untuk itu, paham yang mengganggu persatuan dan kesatuan harus dicegah.

    "Saya sangat ingin kehidupan kerukunan umat beragama dapat terus terjalin. Upaya memecah belah dengan menjadikan agama untuk kepentingan politik tidak boleh dibiarkan karena akan menimbulkan perpecahan dan bisa berdampak pada pertumpahan," ujarnya.

    Baca pula: 
    Bom Kampung Melayu, PGI: Negara Terlalu Abai terhadap Radikalisme

    Anton menuturkan seseorang dengan tingkat keimanan yang tinggi biasanya memiliki kegiatan yang militan. Untuk itu, perlu diimbangi pengetahuan yang sempurna agar tidak salah jalan.
    "Contoh di Kampung Melayu, Jakarta. Bom bunuh diri dianggap akan masuk surga. Itu tidak benar, karena bunuh diri diharamkan agama. Apalagi bunuh diri dengan direncanakan," katanya.

    Anton mengatakan Polda Bangka Belitung dan jajaran sudah diperintahkan memperbanyak kegiatan di masjid dan berhubungan langsung dengan masyarakat. Selain itu, polisi tetap melaksanakan patroli dan menjaga keamanan di lingkungan masyarakat.

    Silakan baca:
    Mendagri: Indonesia Tak Boleh Kalah dari Radikalisme dan Terorisme

    "Polisi juga muslim. Bukan kafir. Polisi juga ingin masuk surga. Tidak ada polisi yang tidak ingin masuk surga. Itu dengan keyakinan masing-masing. Di samping itu, polisi sebagai kontrol sosial," ujar Anton.

    Anton menambahkan, perbedaan yang ada di tengah masyarakat harus menjadi pemersatu. Perbedaan yang ada tidak boleh dijadikan alasan untuk terpecah-pecah. "Mari bersama kita jaga toleransi yang sudah terbina. Jangan sampai terhasut oleh pihak yang tidak bertanggung jawab yang ingin membuat perpecahan," ucapnya. Paham radikalisme, kata Anton, harus dicegah dan ditolak.

    SERVIO MARANDA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kerusuhan Manokwari, Bermula dari Malang Menjalar ke Sorong

    Pada 19 Agustus 2019, insiden Kerusuhan Manokwari menjalar ke Sorong. Berikut kilas balik insiden di Manokwari yang bermula dari Malang itu.