Investment Grade Dorong Perbaikan Ekonomi Nasional

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Investment Grade Dorong Perbaikan Ekonomi Nasional

    Investment Grade Dorong Perbaikan Ekonomi Nasional

    Myrdal Gunarto,

    (Ekonom Maybank Indonesia)

    Investment Grade Dorong Perbaikan Ekonomi Nasional

    Rating investment grade bakal berdampak signifikan terhadap investasi, baik di pasar modal maupun langsung di sektor riil.

    Setelah menunggu 20 tahun, akhirnya Standard & Poor’s Global Ratings (S&P) kembali menempatkan rating Indonesia pada level investment grade (BBB—atau layak investasi) pada 19 Mei 2017. S&P memandang risiko fiskal Indonesia telah menurun. Selain itu, pemerintah Indonesia dianggap sudah mengambil langkah realistis terkait dengan belanja dan pendapatan (APBN) guna menstabilkan keuangan negara.

    Indonesia sebelumnya sudah mendapat predikat investment grade dari berbagai lembaga rating sejenis, seperti Fitch Ratings pada Desember 2011 dan Moody's Investor Service pada Januari 2012. Status rating layak investasi dari tiga lembaga utama tersebut memberi sinyal kuat bagi investor asing untuk terus masuk ke Indonesia. Dalam jangka pendek, dampaknya dapat terlihat langsung di pasar keuangan domestik, khususnya di pasar obligasi. Lihat saja, pasca-kenaikan rating S&P, arus modal asing terlihat masuk ke Tanah Air. Bahkan lelang surat utang negara (SUN) terlihat langsung semarak pada 23 Mei 2017. Jumlah bid cover ratio tercatat 2,92 kali, dengan jumlah total penawaran mencapai Rp 43,8 triliun. Pada lelang SUN tersebut, pemerintah menyerap dana Rp 14 triliun. Secara keseluruhan, di pasar SUN, presentase foreigners ownership mencapai 39,0 persen dari total kepemilikan SUN di negeri ini atau sebesar Rp 752 triliun hingga 27 Mei 2017.

    Sedangkan di pasar saham, investor terlihat tidak terlena oleh euforia status rating investment grade dari S&P. Sebab, masih banyak faktor, baik eksternal maupun internal, yang harus diperhatikan. Net buying position dari investor asing tercatat hanya mencapai US$ 69 juta pada 22-24 Mei 2017. Malah, investor asing di pasar saham terlihat melakukan aksi ambil untung setelahnya. Itu dipengaruhi oleh momentum rapat moneter bulanan dari The Federal Reserve yang semakin dekat.

    Walau begitu, kami memandang pasar keuangan Indonesia merupakan target investasi yang semakin menjanjikan setelah mendapat status rating investment grade. Ini juga didorong oleh faktor imbal hasil yang menarik, ditambah dengan fundamental ekonomi dan sosial-politik yang stabil. Status rating investment grade juga diharapkan dapat membuat biaya utang pemerintah menjadi lebih murah. Bunga utang pemerintah ke depan akan menjadi lebih murah seiring dengan persepsi risiko yang lebih rendah. Pembiayaan utang yang lebih murah diperlukan dalam proses pembangunan nasional. Dengan kondisi tersebut, rasio current account deficit Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) diharapkan turun dari 1,75 persen pada 2016 menjadi 1,15 persen pada tahun ini. Sehingga, bila rasio current account deficit dapat lebih rendah, ditambah arus modal yang semakin deras, secara otomatis cadangan devisa pun akan meningkat. Cadangan devisa Indonesia diproyeksikan meningkat dari US$ 116,4 miliar pada 2016 menjadi US$ 125,5 miliar pada tahun ini. Dengan kondisi tersebut, rupiah diproyeksikan dapat bergerak stabil sesuai dengan fundamental perekonomian nasional. Kami memproyeksikan rupiah berada di level 13.300 pada akhir tahun ini.

    Sementara itu, pada sektor riil, kepercayaan investor untuk melakukan investasi langsung akan terus bertambah seiring dengan status rating investment grade. Ini membuat iklim investasi nasional terlihat lebih kondusif. Berbagai stimulus fiskal, seperti 14 paket kebijakan ekonomi yang telah dirilis pemerintah, juga mulai direspons positif. Itu terlihat dari keputusan World Bank yang memperbaiki peringkat kemudahan investasi (easing of doing business) Indonesia dari 106 pada 2016 menjadi peringkat ke-91 pada tahun ini. Selain itu, program tax amnesty pada periode Juli 2016-Maret 2017, yang menghadirkan penerimaan pajak dan dana repatriasi lebih dari Rp 100 triliun, juga akan memperkukuh sektor riil ke depannya.

    Dengan demikian, peningkatan arus investasi (baik di pasar keuangan maupun sektor riil) seiring dengan status rating investment grade, diharapkan dapat menciptakan mesin ekonomi baru. Sehingga lapangan kerja yang tersedia juga semakin terbuka lebar. Kondisi tersebut pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan pemerintah dari sektor pajak dan nonpajak. Amunisi fiskal pemerintah untuk pembangunan ekonomi pun akan menjadi lebih kuat. Alhasil, program-program infrastruktur, seperti pembangunan sarana transportasi mass rapid transit (MRT) dan light rapid transit (LRT), bisa berjalan lebih cepat guna mengejar ketertinggalan dari negara tetangga, di antaranya Thailand, Malaysia, dan Singapura. Ini sangat penting bagi kemajuan Indonesia. Sebab, seluruh masyarakat negeri ini harus maju.(*) 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    WhatsApp Pay akan Meluncurkan E - Payment, Susul GoPay dan Ovo

    WhatsApp akan meluncurkan e-payment akhir tahun 2019 di India. Berikutnya, WhatsApp Pay akan melebarkan layanannya ke Indonesia.