Usut Bom Kampung Melayu, Pengunjung Aman Abdurrahman Dicurigai

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Puluhan warga menyanyikan lagu kebangsaan dalam aksi solidaritas duka bom kampung melayu  di lokasi kejadian bom bunuh diri, Jakarta 25 Mei 2017.TEMPO/Rizki Putra

    Puluhan warga menyanyikan lagu kebangsaan dalam aksi solidaritas duka bom kampung melayu di lokasi kejadian bom bunuh diri, Jakarta 25 Mei 2017.TEMPO/Rizki Putra

    TEMPO.CO, Jakarta -  Kepolisian RI menelusuri sejumlah nama yang dicurigai sempat mengunjungi terpidana terorisme, Aman Abdurrahman, di Nusakambangan, Jawa Tengah, untuk mengungkap komplotan bom Kampung Melayu. Aman Abdurrahman, yang juga pemimpin jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD), menjadi sorotan karena salah satu pelaku bom bunuh diri di Kampung Melayu, Ahmad Sukri, pernah mengunjunginya pada November 2014.

    Kepala Bagian Penerangan Umum Polri Komisaris Besar Martinus Sitompul mengungkapkan ihwal pelacakan sejumlah nama tersebut. Namun dia enggan memaparkan identitas mereka secara detail. (Baca: Bom Kampung Melayu, Polisi Telisik Rekaman Pembelian Panci)

    Menurut sumber Tempo, Detasemen Khusus 88 telah mendata sedikitnya lima anggota jaringan JAD yang mengunjungi Aman dalam tiga tahun terakhir. Dua di antaranya menemani Sukri ketika menemui Aman pada 2014. Beberapa orang lain pun tercatat datang ke Nusakambangan untuk bertemu dengan terpidana terorisme lain.

    Pengamat terorisme, Al Chaidar, mengatakan Aman alias Abu Sulaeman masih aktif memberi instruksi kepada pengikut JAD di Indonesia. Perintah tersebut biasa disalurkan lewat sejumlah orang yang mengunjungi Aman di penjara. “Biasanya, hanya orang-orang terpilih yang bisa bertemu langsung dengan Aman,” ucapnya. (Baca: Polisi: Pelaku Bom Kampung Melayu dan Kelompok JAD Hindari Ponsel)

    Menurut Al Chaidar, ada 3-5 orang yang biasa bertemu dengan Aman. Semakin sering anggota JAD datang menemui Aman di lembaga pemasyarakatan, semakin tinggi kemungkinan teror terjadi. “Semakin intens kunjungan, artinya ada perintah khusus yang sedang diberikan. Kemungkinan akan ada teror dalam waktu dekat,” katanya.
     
    Dia menilai Nusakambangan bak markas besar bagi kelompok JAD. Setelah perintah diberikan, informasi tentang hal itu disebarkan. “Mereka biasanya berkomunikasi melalui Telegram. Aplikasi itu tidak mudah diretas,” kata Al Chaidar. (Baca: Menguak Bom Kampung Melayu, 2 Pelaku Diduga Terkait Jaringan JAD)

    MITRA TARIGAN

    Video Terkait: Polisi Geledah Rumah Terduga Pelaku Bom Kampung Melayu di Bandung




     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.