Saleh As'ad Djamhari, Gigih Menulis Strategi Perang Diponegoro  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Saleh As'ad Djamhari. youtube.com

    Saleh As'ad Djamhari. youtube.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Ahli sejarah militer Saleh As’ad Djamhari dikenal sebagai sosok yang selalu ingin belajar. Hal itu disampaikan sejarawan yang juga pernah menjadi mahasiswanya, Peter Kasenda.

    "Dalam usia yang sudah terbilang sepuh, beliau tetap melanjutkan studinya di Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia untuk memperoleh gelar doktornya," kata Peter saat dihubungi Tempo, Sabtu, 27 Mei 2017.

    Baca: Ahli Sejarah Militer Saleh As'ad Djamhari Tutup Usia

    Menurut Peter, selain terus memacu dirinya untuk terus belajar, Saleh selalu mendorong dan memotivasi mahasiswanya untuk terus meningkatkan pengetahuan. "Beliau juga selalu mendorong mantan mahasiswanya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi," ujar Peter.

    Saleh tutup usia dalam umur 79 tahun di Rumah Sakit Mayapada, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Jumat, 26 Mei 2017, sekitar pukul 19.00 WIB. Sebelumnya, Saleh sudah dirawat di rumah sakit tersebut selama sepekan sejak Jumat, 19 Mei 2017, karena penyakit Bell's Palsy yang dideritanya.

    Setelah disemayamkan di rumah duka, Jalan SMP Mabad Nomor 68, Cempaka Putih, Ciputat, Tangerang Selatan, jenazah almarhum Saleh dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta Selatan.

    Saleh merupakan ahli sejarah militer yang dikenal melalui bukunya berjudul Strategi Menjinakkan Diponegoro: Stelsel Benteng, 1827-1830. Menurut Peter, buku tersebut amat monumental, karena menyangkut strategi perang pangeran Diponegoro menghadapi kolonial Belanda pada 1925-1930. “Penelitian yang amat serius dan gigih,” ujar Peter.

    Buku yang diterbitkan oleh Komunitas Bambu itu merupakan studi tentang Perang Diponegoro yang sangat rinci. Perang yang dalam sejarah kolonial dikenal sebagai perang terhebat dan memakan biaya sangat besar sehingga kas negara terkuras itu dibahas dengan lengkap.

    Saleh juga terlibat dalam penulisan buku PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) dalam Perang Kemerdekaan dan Perjalanan Seorang Prajurit Pejuang dan Profesional: Memoar Jenderal TNI (Purn.) Soemitro bersama beberapa sejarawan lain.

    Baca juga: Reportase Perang Diponegoro

    Saleh aktif menjadi dosen sejarah di sejumlah perguruan tinggi. Saleh juga pernah bekerja sebagai staf teknis Lembaga Sejarah dan Antropologi Departemen Pendidikan Dasar dan Kebudayaan di Jakarta pada tahun 1960-an.

    INGE KLARA SAFITRI | ALI ANWAR


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.