Raih Investasi di Indonesia-Malaysia Business Matching

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pada periode Januari-Desember 2016, investasi Malaysia di Indonesia mencapai US$ 1,1 miliar.

    Pada periode Januari-Desember 2016, investasi Malaysia di Indonesia mencapai US$ 1,1 miliar.

    INFO NASIONAL - Melalui Indonesia-Malaysia Business Matching yang digelar pada Selasa, 23 Mei 2017, di Gran Melia Hotel Jakarta, Indonesia berpotensi menggaet dan mengoptimalkan investasi, khususnya proyek listrik dan pabrik semen, sebesar Rp 61,1 triliun. Selain itu, peluang potensi investasi Malaysia dengan proyek-proyek yang ditawarkan BUMN dari Indonesia sebesar Rp 65, 6 triliun.

    Malaysia merupakan negara ketujuh yang memiliki investasi terbesar di Indonesia, dan menempati level terbesar kedua setelah Singapura untuk negara-negara ASEAN . Tercatat, pada periode Januari-Desember 2016, investasi Malaysia di Indonesia mencapai US$ 1,1 miliar. Saat ini, investasi Malaysia terutama masuk ke sektor konstruksi, industri makanan, perkebunan, dan perbankan.

    Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo, sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 13 M Tahun 2017, telah ditunjuk sebagai Pejabat Penghubung Investasi untuk Malaysia dan mendapat tugas mencari peluang investasi, khususnya dari Malaysia. Tugas lainnya, mengidentifikasi dan mengatasi persoalan yang menghambat Investasi di Indonesia, mengawal dan memastikan kelancaran proses realisasi investasi, serta melaporkan pelaksanaan tugasnya kepada presiden.  

    Menindaklanjuti tugas selaku Pejabat Penghubung Investasi untuk Malaysia tersebut Menteri Desa antara lain telah melakukan kunjungan kerja ke Kuala Lumpur pada 20 dan 21 April 2017. Dalam kunjungan tersebut, Menteri Desa melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Perdagangan Internasional dan Industri Malaysia Dato Sri Mustapa Mohamed.

    Sejumlah delegasi pelaku bisnis dari Indonesia, yang dikoordinasi PT Bank CIMB Niaga Tbk, antara lain PT Pembangunan Perumahan, PT Wijaya Karya, dan pihak swasta lain, seperti, Rajawali Group, Sinarmas Group, Triputra Group, Salim Group, PT Truba Jaya, dan PT Rukun Raharja turut serta dalam pertemuan tersebut. Sedangkan sejumlah perusahaan Malaysia yang ditemui, di antaranya FELDA, Tenaga Listrik Berhad, Khazanah, YTL Corporation Berhad, Axiata, dan CIMB Investment Banking.

    Dalam Business Matching Indonesia-Malaysia ini, Menteri Eko memfasilitasi pertemuan bisnis sebagai tindak lanjut dari hasil pertemuan dengan pelaku bisnis Malaysia. Lebih dari 20 perusahaan Malaysia dari sektor listrik, infrastruktur, toll road dan properti, serta 40 perusahaan, termasuk BUMN (PT PP, PT Wika, PT Jasa Marga, PT Bukit Asam, ITDC, Semen Baturaja, Semen Padang), dan perusahaan swasta Indonesia, seperti Rajawali, Minamas, Sinarmas, dan Blue Bird, akan menggali potensi investasi Malaysia sebesar Rp 61,1 triliun. Selain itu, peluang potensi investasi Malaysia dengan proyek-proyek yang ditawarkan BUMN dari Indonesia sebesar Rp 65, 6 triliun.

    Pertemuan pelaku bisnis secara one-on-one meeting tersebut juga dilanjutkan dengan pertemuan Indonesia-Malaysia Business Networking yang dihadiri Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan dan Menteri BUMN Rini Soemarno.

    Dalam kesempatan tersebut, Menteri Eko memaparkan isu-isu terkini mengenai bagaimana meningkatkan iklim investasi, khususnya untuk investor Malaysia melalui reformasi kebijakan investasi dan perbaikan tata laksana penanaman modal dan industri yang ditawarkan. Kemudian, upaya deregulasi terhadap kemudahan berinvestasi yang dilakukan Pemerintah Indonesia dengan tujuan membantu meningkatkan iklim investasi Malaysia di Indonesia.

    Menteri Eko memastikan terus membantu mencari peluang investasi, khususnya dari Malaysia. Upaya tersebut juga bekerja sama dengan Duta Besar Indonesia di Malaysia, Rusdi Kirana. Tim akan terus mengidentifikasi dan mengatasi persoalan yang menghambat investasi di Indonesia sesuai dengan masukan dari pelaku bisnis di Malaysia dan Indonesia. 

    Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dan Asosiasi Indonesia-Malaysia akan terus mengawal kelancaran proses realisasi investasi melalui koordinasi dengan kementerian terkait. (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Utang BUMN Sektor Industri Melonjak, Waskita Karya Paling Besar

    Sejumlah badan usaha milik negara di sektor konstruksi mencatatkan pertumbuhan utang yang signifikan. Waskita Karya menanggung utang paling besar.