Redakan Pertikaian, Ketua Pagar Nusa NU Temui Perguruan Silat  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Atraksi Pencak Silat Pagar Nusa di Stadion Gelora Bung Karno saat peringatan Hari Lahir PBNU ke-85, Jakarta, Minggu (17/7). Peringatan tersebut diramaikan dengan parade Budaya Islam, devile Banser, atraksi Pencak Silat Pagar Nusa, dan dihadiri oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono beserta sejumlah pejabat dan menteri KIB II.  TEMPO/Seto Wardhana

    Atraksi Pencak Silat Pagar Nusa di Stadion Gelora Bung Karno saat peringatan Hari Lahir PBNU ke-85, Jakarta, Minggu (17/7). Peringatan tersebut diramaikan dengan parade Budaya Islam, devile Banser, atraksi Pencak Silat Pagar Nusa, dan dihadiri oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono beserta sejumlah pejabat dan menteri KIB II. TEMPO/Seto Wardhana

    TEMPO.CO, Kediri - Ketua Umum Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama (IPSNU) Pagar Nusa Emha Nabil Haroen akan menemui sejumlah pemimpin perguruan silat lain di Tanah Air. Silaturahmi ini untuk meredakan pertikaian antaranggota perguruan yang kerap terjadi di lapangan.

    Nabil mengatakan, sejak terpilih sebagai Ketua Umum IPSNU Pagar Nusa dalam kongres III di Jakarta, 3-5 Mei 2017, dia sudah menyiapkan sejumlah program kerja. Di antaranya melakukan road show silaturahmi kepada para pemimpin perguruan silat di Tanah Air untuk membangun komitmen bersama memajukan dunia pencak silat. “Termasuk meredakan konflik antar-perguruan yang kerap terjadi di lapangan,” ucap Nabil di Kediri, Selasa, 23 Mei 2017.

    Baca juga:
    Polisi dan TNI Siaga di Lokasi Bentrokan Pendekar

    Mantan Sekretaris Umum IPSNU Pagar Nusa ini berujar, konflik antar-pendekar yang terjadi selama ini sebenarnya lebih banyak dipicu persoalan pribadi. Mereka yang bertikai kemudian membawa nama perguruan silat masing-masing dan berkembang menjadi pertikaian antar-perguruan. Apalagi kemudian aksi ini diikuti anggota perguruan silat lain sebagai bentuk solidaritas dan membela kehormatan lembaga.

    Nabil menuturkan konflik anggota Pagar Nusa dengan anggota perguruan silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) di Trenggalek, Tulungagung, Blitar, dan Nganjuk menjadi contoh masih banyaknya kesalahpahaman pendekar akan arti solidaritas. “Karena itu, kami akan mengajak para pemimpin perguruan membuat kesepakatan bersama tentang cara menindak anggota yang terlibat pertikaian. Salah satunya menyerahkan kepada polisi,” katanya.

    Baca pula:
    Lawan Ormas Radikal, Parpol dan Ormas Kediri Apel Kebangsaan

    Dia berharap road show silaturahmi ini akan membangun kesamaan sikap para pemimpin perguruan silat dalam membina anggotanya. Selain itu, pengembangan prestasi pesilat Indonesia lebih cepat terwujud jika dilakukan bersama-sama.

    Selain melakukan silaturahmi, Nabil akan melakukan pembenahan organisasi Pagar Nusa. Salah satu yang paling krusial adalah pendataan anggota, yang hingga kini belum terverifikasi dengan baik. Padahal diperkirakan jumlah pendekar Pagar Nusa yang tersebar di seluruh pelosok mencapai tiga juta.

    Untuk peningkatan keterampilan anggota, alumnus santri Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, ini juga telah membuat kesepakatan dengan perguruan bela diri luar negeri untuk melakukan pertukaran pelatih. Komitmen ini, antara lain, dilakukan dengan perguruan silat Cina, Mesir, dan Aljazair. “Kami mengundang pelatih shaolin untuk mengajar di Indonesia. Demikian pula sebaliknya,” ujarnya.

    Selain mendatangi para pemimpin perguruan silat, Nabil mengaku telah berkunjung ke para kiai sepuh NU untuk mendengar masukannya. Pondok Pesantren Lirboyo menjadi tujuan pertama. Pendiri Pagar Nusa, Kiai Maksum Jauhari, mengajar silat dan disemayamkan di pondok pesantren tersebut.

    HARI TRI WASONO



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.