Kisah Korban yang Selamat Saat Kapal Mutiara Sentosa Terbakar

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ilustrasi kapal terbakar. uscgnews.com

    ilustrasi kapal terbakar. uscgnews.com

    TEMPO.CO, Makassar - Minarsih, 42 tahun,  selamat dari maut ketika KM Mutiara Sentosa I terbakar di laut lepas perbatasan antara Perairan Pulau Masalembu, Sumenep Madura dan Kepulauan Pangkep Sulawesi Selatan, pada Jumat, 19 Mei 2017 malam lalu. Tapi ia masih mencari tahu keberadaan suaminya, Rahmat yang ikut berlayar menuju Balikpapan. “Saya bersama suami nyebur ke laut saat kapal terbakar,” kata dia di Rumah Sakit Stella Maris Makassar, Sulawesi Selatan.

    Minarsih merupakan satu dari dua korban selamat yang dibawa ke Makassar, Sulawesi Selatan dalam musibah terbakarnya KM Mutiara Sentosa I. Selain Minarsih, satu penumpang lainnya adalah Shinta, 18 tahun. Minarsih dan Shinta ditemukan dan diangkut oleh KM Meratus Makassar. Mereka merupakan dua orang dari seratusan penumpang yang selamat. Korban lainnya di bawa ke Tanjung Perak Surabaya, Jawa Timur.

    Baca:Nama-nama Korban Selamat Kapal Terbakar Mutiara Sentosa

    Minarsih bercerita, mendengar suara teriakan kapal terbakar. Para penumpang mulai panik. Mereka berdesak-desakan. Minarsih yang bersama suaminya, Rahmat, segera menerobos di antara penumpang-penumpang yang panik. Mengambil pelampung, dan tanpa pikir panjang, keduanya melompat dari kapal. Minarsih tak mengetahui persis berapa lama bertahan di laut. “Cukup lama,” kata dia.

    Shinta juga mendengar teriakan kapal terbakar, dan tak bisa dipadamkan. Ia yang berlayar bersama Serina--kakanya, dari Surabaya, juga melompat mengetahui api mulai tak terkendali. "Sebelum lompat saya lihat api besar sekali di depanku, jadi saya langsung ambil pelampung lalu melompat ke laut,” kata Shinta. “Perut saya sempat terbentur besi, tapi saya tetap melompat.”

    Hingga kini Minarsih dan Shinta belum mengetahui keberadaan sanak keluarganya yang menemani saat berlayar itu. “Saya enggak tahu di mana suami saya, karena terpisah di lautan,” kata Minarsih. “Saya enggak tahu di mana kakak saya,” Shinta  menjelaskan.

    Shinta bercerita selamat setelah melihat kapal melintas. Dia berteriak meminta tolong. "Aku lihat kapal di tengah laut, lalu aku teriak minta tolong dan berenang sendiri," dia menjelaskan.

    Kapal itu tak lain adalah KM Meratus. Kapten KM Meratus, Muhammad Napi Maddalennah, mengatakan segera bersiap mencari para korban setelah mendapat informasi KM Mutiara Santosa I terbakar. “Kami dapat kabar KM Mutiara terbakar Jumat pukul 17.00 WITA, ," kata dia, Ahad 21 Mei 2017.

    KM Meratus segera menyisir laut di sekitar lokasi kapal Mutiara. Sebanyak 22 orang berada di atas kapal Meratus. Dua korban yang ditemukan berada sekitar 20 mil dari lokasi Kapal Mutiara. "Kami sampai di lokasi malam hari, jadi hanya dengar suara teriakan korban," kata dia.

    Baca: Tiga Mayat Berpelampung Ditemukan di Dekat Kapal Mutiara Sentosa

    Muallim 1 KM Meratus Makassar, Ibnu Khoirul menceritakan proses evakuasi korban berlangsung sekitar 7-8 jam. “Proses evakuasi cukup rumit karena kondisi gelap, jadi kami hanya dengar suara teriak, lalu mendatangi sumber suara.”

    Kepala Badan SAR Nasional Makassar Amiruddin menjelaskan, setelah mengevakuasi, dua perempuan itu dibawa ke Rumah Sakit Stella Maris Makassar pada Ahad 21 Mei 2017 pagi. Meski selamat, Winarsih belum pulih benar. "Korban Winarsih masih dalam kondisi kurang sehat," kata Amiruddin.

    Baca: Lima Jenazah Kapal Terbakar Tiba di Tanjung Perak

    Direktur Jenderal Perhubungan Laut A. Tonny Budiono sebelumnya mengatakan sebanyak 187 penumpang, termasuk Anak Buah Kapal (ABK) Kapal Mutiara Sentosa 1 telah dievakuasi. Ia mengatakan tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.

    Kepala Seksi Potensi SAR Surabaya, Gatot Ibnu Wibowo, sebelumnya mengatakan para korban Kapal Motor Mutiara Sentosa I telah tiba di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Jawa Timur pada Ahad, 21 Mei 2017, sekitar pukul 03.00 WIB. Adapun lima Jenazah dibawa Kapal Negara SAR Widura 225 yang bersandar di Dermaga Jamrud Utara.

    “Satu korban meninggal masih Mr X," kata Gatot Ibnu Wibowo kepada wartawan di lokasi, Ahad, 21 Mei 2017. Menurut Gatot, jenazah dibawa ke Kepolisian Daerah Jawa Timur untuk diteliti bagian Disaster Victim Identification. Gatot enggan merinci keempat identitas korban meninggal.

    Data diperoleh Tempo, para korban meninggal yang sudah teridentifikasi adalah Bambang (43 tahun), warga Surabaya, Jawa Timur; Yusuf, warga Purwodadi, Jawa Tengah; Prayit, warga Banyuwangi, Jawa Timur; Supri, warga Malang, Jawa Timur.

    DIDIT HARIYADI | ARTIKA RACHMI | DESTRIANITA



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.