Tangkal Penyusupan Paham Radikal, BNPT Pantau Masjid Kampus  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala BIN Budi Gunawan (kanan) berbincang dengan Kepala BNPT Suhardi Alius (kiri) sebelum mengikuti rapat kabinet terbatas di Kantor Kepresidenan, Jakarta, 29 Desember 2016. ANTARA FOTO

    Kepala BIN Budi Gunawan (kanan) berbincang dengan Kepala BNPT Suhardi Alius (kiri) sebelum mengikuti rapat kabinet terbatas di Kantor Kepresidenan, Jakarta, 29 Desember 2016. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Samarinda - Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigadir Jenderal Polisi Hamli meminta kampus mewaspadai penyusupan paham radikal yang berujung pada aksi teror.

    "Perlu juga ditingkatkan pengawasan di kampus, agar mahasiswa tidak disusupi paham radikal terorisme," kata Hamli kepada Tempo usai menggelar dialog bertema  'Jaga Masjid Kita' di salah satu hotel di Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Sabtu, 20 Mei 2017.

    Baca: Spanduk 'Garudaku Kafir', BNPT: Bukti Propaganda Masuk ke Kampus

    Penyusupan paling rentan, menurut Hamli, ialah melalui masjid. Hamli menjelaskan bahwa BNPT bersama elemen lain tengah berupaya mengantisipasi masuknya paham radikal  masuk melalui masjid, termasuk masjid-masjid yang ada di kampus. "Untuk itu kita mengumpulkan para takmir masjid di Samarinda."

    Sebagai pengalaman, kata Hamli, saat terjadi  teror bom di Gereja Oikumene, Samarinda pada 11 November 2016,  ternyata tempat "latihan" pelaku berada di salah satu masjid di Loa Janan. Seorang balita tewas dan tiga lainnya mengalami luka bakar akibat meledaknya bom rakitan yang dibawa oleh pelaku bernama Juhanda.

    Simak: Hadiri Forum Islam-Amerika di Arab, Jokowi Akan Bicara Terorisme

    Untuk mengantisipasi penyusupan, BNPT mengundang dan mengajak para takmir masjid bersama-sama mewaspadai masuknya paham radikalisme diawali dengan dialog bersama. "Jadi, para takmir masjid harus paham seperti apa ciri-cirinya dan harus mengetahui ketika ada penyusup," kata Hamli.

    Hamli tak khawatir pengawasan itu akan mengganggu kenyamanan beribadah dan juga kebebasan akademik. "Kita bukan mengintai layaknya memantau pelaku teror. Tapi kita ingin memastikan melalui takmir masjid bahwa kegiatan masjid tidak disusupi paham radikal terorisme," tuturnya.

    Lihat: Kepala BNPT: Upaya Pencegahan Terorisme Mesti dari Hulu

    Terkait kebebasan akademik, Hamli menjamin  BNPT  tak akan melanggarnya. "Tidak, kita tidak akan melanggar Undang-undang Pendidikan. Di Undang-undang itu juga kan sudah dijelaskan, tidak boleh ada aktivitas yang bertentangan dengan hukum," ucapnya.

    SAPRI MAULANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Utang BUMN Sektor Industri Melonjak, Waskita Karya Paling Besar

    Sejumlah badan usaha milik negara di sektor konstruksi mencatatkan pertumbuhan utang yang signifikan. Waskita Karya menanggung utang paling besar.