Hadiri Forum Islam-Amerika di Arab, Jokowi Akan Bicara Terorisme  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo (Jokowi) berbicara kepada wartawan sebelum memasuki pesawat kepresidenan di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, 20 Mei 2017. Presiden Jokowi akan berkunjung ke Riyadh. TEMPO/Subekti

    Presiden Joko Widodo (Jokowi) berbicara kepada wartawan sebelum memasuki pesawat kepresidenan di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, 20 Mei 2017. Presiden Jokowi akan berkunjung ke Riyadh. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo akan menghadiri Arab Islamic American Summit 2017 di Riyadh, Arab Saudi. Sesaat sebelum berangkat, Jokowi mengatakan kehadiran Indonesia di sana untuk memenuhi undangan dari tuan rumah.

    "Memenuhi undangan dari utusan khusus Sri Baginda Raja Salman," kata Jokowi di Jakarta, Sabtu, 20 Mei 2017. Menurut dia, forum itu akan membicarakan tentang kerja sama internasional melawan terorisme dan radikalisme. Sebanyak 55 kepala negara akan hadir dalam pertemuan itu. (Baca: Banyak Cara Polisi Mencegah Wabah Paham Radikalisme )

    Presiden Jokowi menyatakan Indonesia mesti terlibat dalam upaya memelihara perdamaian. Sebab misi itu tertuang dalam konstitusi. "Termasuk kehadiran kita di forum ini," ucap Jokowi.

    Dalam pertemuan nanti, Presiden Jokowi akan memaparkan ihwal pentingnya menggunakan aksi non-kekerasan (soft power) untuk melawan radikalisme dan terorisme. Menurut dia, dunia internasional harus bekerja sama menangani akar masalah dari terorisme. "Arab Islamic American Summit sangat penting bagi Indonesia," kata dia. (Baca: Radikalisme Incar Pelajar, BNPT Usul Deradikalisasi di Kurikulum)

    Pada kesempatan terpisah, Direktur Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) Sidney Jones menyatakan salah satu upaya memutus mata rantai radikalisme ialah dengan membuka akses pendidikan bagi korban yang berada di wilayah konflik. Secara khusus ia menyoroti akses pendidikan bagi anak-anak.

    "Kita harus memikirkan sekolah mereka. Supaya bisa direintegrasi dalam kehidupan tanpa menahan konsep radikalisasi yang mungkin mereka kenal," ucap Sidney di sela-sela acara Geopolitics in a Changing World 2017 di Jakarta. (Baca: Ini Pesan Buya Syafii Maarif ke Kapolri Soal Ancaman Radikalisme)

    ADITYA BUDIMAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Para Pencari Suaka Afganistan dan Data Sejak 2008

    Para pencari suaka Afganistan telantar di depan Kementerian BUMN di Jakarta pada Juli 2019. Sejak 2008, ada puluhan ribu pencari suaka di Indonesia.