4 Orang Tewas dalam Kecelakaan Beruntun di Tol Cipularang  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Polisi mengatur lalu lintas saat terjadi kecelakaan di Jalan Tol Cipularang. TEMPO/Gunawan Wicaksono

    Polisi mengatur lalu lintas saat terjadi kecelakaan di Jalan Tol Cipularang. TEMPO/Gunawan Wicaksono

    TEMPO.CO, Bandung - Kecelakaan beruntun terjadi di Jalan Tol Cipularang Kilometer 91, Kamis, 18 Mei 2017, sekitar pukul 19.30. Kecelakaan tersebut melibatkan 10 kendaraan dan menewaskan empat orang.

    Baca: Kecelakaan Beruntun, Polisi Razia Bus dan Truk Menuju Puncak

    Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Jawa Barat Komisaris Besar Polisi Yusri Yunus mengatakan kecelakaan beruntun itu disebabkan truk kontainer bernomor polisi B 9769 UIV, yang melaju dari arah Bandung menuju Jakarta, kehilangan kendali. Truk tersebut oleng dan menghantam sejumlah kendaraan di depannya.

    "Pengemudi truk trailer diduga hilang kendali dan menabrak 9 kendaraan lain yang ada di depan," ujarnya melalui pesan singkat, Kamis, 18 Mei 2017.

    Sembilan kendaraan yang dihantam truk terdiri atas 6 minibus, 1 sedan, 1 mikrobus/travel, dan 1 bus besar. Sebagian tengah mengantre di jalur kiri jalan tol karena terhambat kemacetan.

    Dari dugaan sementara kepolisian, truk tersebut dalam kondisi rem blong. Saat ini, pihak kepolisian masih memeriksa pengemudi truk dan sejumlah saksi.

    Kecelakaan tersebut terjadi di Jalan Tol Cipularang arah Bandung menuju Jakarta. Tepatnya di kilometer 91.300, Kampung Batudatar, Desa Cibodas, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Purwakarta.

    "Lokasi kecelakaan jalan lurus menurun, aspal hotmix kering, dan cuaca cerah malam hari," ucapnya.

    Baca: Kecelakaan Beruntun di Karet, Lima Orang Terluka

    Saat ini, korban meninggal dan luka telah dibawa ke Rumah Sakit Siloam dan Tamrin Purwakarta.

    IQBAL T. LAZUARDI S.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.