Cemburu Istri Telepon Mantan, Suami Aniaya Anak Tiri hingga Tewas  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi

    Ilustrasi

    TEMPO.CO, Pekanbaru - Warga Bangko Jaya, Kecamatan Bangko Pusako, Kabupaten Rokan Hilir, Syawaluddin, 25 tahun, tega menganiaya anak tirinya yang masih berusia 2 tahun hingga tewas. Syawal menganiaya korban lantaran sakit hati mendengar istrinya, Devi Purnama Sari, masih berhubungan dengan mantan suami.

    "Cemburu kepada istrinya yang masih berhubungan via telepon dengan mantan suaminya, sehingga tersangka mengarahkan sasaran luapan rasa cemburu itu ke anak tirinya," kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Riau Komisaris Besar Guntur Aryo Tejo, Sabtu, 13 Mei 2017.

    Baca: Pria di Poso Aniaya Istri dan Dua Anaknya, 1 Tewas

    Guntur mengatakan peristiwa itu terungkap saat tetangga pelaku merasa curiga dengan penyebab kematian bocah itu saat dirawat di Puskesmas Bangko Jaya. Terdapat luka memar di bagian bibir, perut, dan lebam di kemaluan. "Warga melihat banyak kejanggalan pada jasad korban," ucapnya.

    Warga melaporkan kejanggalan itu kepada polisi. Sebelumnya, warga sudah curiga lantaran pelaku kerap melakukan kekerasan terhadap korban. Salah satu tetangga, Lira Agustina Sitorus, mengaku pernah melihat Syawaluddin menyiram air kepada korban saat anak tersebut buang air besar di celana. Lira mendengar suara pukulan sambil mengancam akan bunuh korban.

    Polisi yang curiga lalu menangkap Syawaluddin yang sedang menggelar takziah atas meninggalnya korban di rumah mertuanya di Bagan Besar, Dumai. Kepada polisi, pelaku mengakui perbuatannya. "Pelaku mengaku telah menganiaya korban," ujar Guntur.

    Simak: Aniaya Anak Tiri Hingga Tewas, Pengamen Ditangkap

    Syawaluddin mengaku menganiaya korban karena marah lantaran korban buang air besar dalam celana. Pelaku kemudian memukul bibir dan perut korban dengan gayung. Tidak cukup sampai di situ, pelaku menarik buah zakar korban sekuat tenaga hingga korban mengalami kejang-kejang.

    Pelaku langsung membawa korban ke puskesmas. Namun nyawa korban tidak tertolong, dia meninggal dengan badan penuh luka.

    RIYAN NOFITRA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Para Pencari Suaka Afganistan dan Data Sejak 2008

    Para pencari suaka Afganistan telantar di depan Kementerian BUMN di Jakarta pada Juli 2019. Sejak 2008, ada puluhan ribu pencari suaka di Indonesia.