Lokakarya Danau: Membenahi Halaman Belakang

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Lokakarya Danau: Membenahi Halaman Belakang

    Lokakarya Danau: Membenahi Halaman Belakang

    INFO NASIONAL - Danau-danau di Indonesia kondisinya seperti halaman belakang rumah kita, terlupakan dan tidak terawat, sehingga kita malu menunjukkannya kepada tamu. Untuk itu, diperlukan upaya terobosan agar danau bisa menjadi halaman depan Indonesia yang layak ditampilkan kepada wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Hal tersebut disampaikan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro di hari kedua Lokakarya Nasional Pengelolaan Danau Berkelanjutan: Sinergi Program dan Peran Para Pemangku Kepentingan di Jakarta, Rabu, 10 Mei 2017, di Hotel Aryaduta Jakarta.

    Dalam lokakarya hari pertama yang diselenggarakan di Kementerian PPN/Bappenas, hadir sebagai pembicara, para akademikus, peneliti, termasuk dosen Universitas Helsinki Pasi Lehmusluoto, serta perwakilan kementerian atau lembaga. Berbagai isu penting terkait dengan danau, antara lain pengelolaan danau dalam perspektif limnologi, pengelolaan infrastruktur sumber daya air danau secara berkelanjutan, dan pemanfaatan danau yang berwawasan lingkungan, menjadi pembahasan utama.

    Lokakarya hari kedua ini dibagi dalam dua sesi. Sesi pertama dimoderatori Dr Ir Taufik Hanafi, MUP, staf ahli Menteri PPN Bidang Pemerataan dan Kewilayahan. Adapun Budi Setyarso, Pemred Koran Tempo, menjadi moderator pada sesi kedua.

    Bupati Agam, Sumatera Barat, Indra Catri mempresentasikan “Pemulihan Danau Maninjau Melalui 10 Agenda Prioritas”. Maninjau adalah negeri tanah kelahiran para inspirator dan pembaharu Indonesia, seperti Buya Hamka, Moh. Natsir, Sjafruddin Prawiranegara, dan Hj Rasuna Said. Namun saat ini danau tersebut menghadapi berbagai permasalahan, seperti hilangnya ekosistem endemis, semakin tingginya level muka air danau, rusaknya daerah tangkapan air, pencemaran air, dan aktivitas perikanan keramba.

    Dari Gorontalo, Bupati Nelson Pomalingo menjelaskan bahaya yang dialami Danau Limboto. Dengan laju sedimentasi yang mencapai 5 juta ton per tahun, danau ini terancam hilang. Saat ini ketinggian air hanya 2,5 meter dari sebelumnya 30 meter dan luasan danau berkurang drastis dari 7 ribu hektare menjadi 3 ribu hektare. Danau Limboto sendiri mempunyai keanekaragaman hayati yang unik. Salah satunya sebagai tempat persinggahan burung-burung Australia yang akan bermigrasi ke Cina.

    Danau Rawapening di Kabupaten Semarang saat ini 80 persen permukaannya tertutup oleh eceng gondok. Bupati Semarang Mundjirin telah berupaya menggandeng Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk mengangkat eceng gondok dengan biaya yang sangat besar tapi belum membuahkan hasil maksimal.

    Wakil Bupati Toba Samosir mengatakan Danau Toba menghadapi permasalahan yang hampir mirip dengan Danau Maninjau, yaitu menjamurnya aktivitas keramba jaring apung yang mengakibatkan penurunan kualitas air danau. Untuk pengelolaan Danau Toba, Menteri Pariwisata Arief Yahya yang berbicara di sesi kedua memaparkan kunci suksesnya adalah dengan menerapkan sistem one destination one single management. Sebelumnya, Danau Toba dikelola tujuh kabupaten berbeda, tapi saat ini sudah dibentuk Badan Otorita Danau Toba.

    Pembicara lain dalam lokakarya ini adalah Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, Dirjen Tata Ruang Kementerian Agraria dan Tata Ruang, Direktur Bina Pengelolaan Kementerian PUPR, dan Direktur Eksekutif Sajogjo Institute.(*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Para Pencari Suaka Afganistan dan Data Sejak 2008

    Para pencari suaka Afganistan telantar di depan Kementerian BUMN di Jakarta pada Juli 2019. Sejak 2008, ada puluhan ribu pencari suaka di Indonesia.