Sumatera Selatan Revegetasi Gambut di Lahan 1.000 Hektare  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas menggembala gajah dewasa di Pusat Latihan Gajah Padang Sugihan di Banyuasin, Sumatera Selatan, 24 Februari 2017. Di tempat ini, pengunjung tidak hanya dapat mengunggang gajah di lahan gambut, mereka juga dapat mempelajari lekuk-lekuk manajemen pengelolaan air di area yang rawan terbakar tersebut. TEMPO/Parliza Hendrawan

    Petugas menggembala gajah dewasa di Pusat Latihan Gajah Padang Sugihan di Banyuasin, Sumatera Selatan, 24 Februari 2017. Di tempat ini, pengunjung tidak hanya dapat mengunggang gajah di lahan gambut, mereka juga dapat mempelajari lekuk-lekuk manajemen pengelolaan air di area yang rawan terbakar tersebut. TEMPO/Parliza Hendrawan

    TEMPO.CO, Palembang - Kawasan revegetasi di lahan gambut bekas terbakar di Sumatera Selatan bakal bertambah menjadi lebih dari 1.000 hektare. Penambahan tersebut sebagai bentuk apresiasi berbagai pihak atas keberhasilan daerah itu dalam melakukan penghijauan pada daerah yang terdegradasi hebat pasca-kebakaran tahun 1997 dan 2006 di kawasan Sepucuk, Ogan Komering Ilir. Hal itu disampaikan Gubernur Alex Noerdin di sela-sela mendampingi delegasi The 1st Asia Bonn Challenge High Level Roundtable Meeting ke Sepucuk.

    "Ada pihak yang siap membantu menambah pengembangan kawasan 1.000 hektare," katanya, Selasa, 9 Mei 2017. Alex mengakui upaya revegetasi pada lahan gambut di Sumatera Selatan bekas terbakar tidak segampang melakukan penanaman kembali di lahan mineral. Dibutuhkan dana Rp 15 juta setiap hektare bila ingin melakukan revegetasi pada tahun pertama. "Itu belum termasuk biaya tenaga kerjanya," ucap Alex.

    Baca juga:
    Satu Juta Hektare Hutan di Sumatera Selatan Rusak

    Sementara itu, Bastoni, ketua tim peneliti gambut dari Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Palembang, mengatakan pihaknya melakukan riset restorasi sejak 20 tahun lalu. Riset dilakukan dengan pembangunan kebun plasma nutfah dan demonstrasi plot restorasi hutan rawa gambut di Sepucuk seluas 20 hektare. "Hasilnya, kami berhasil mengkoleksi 25 jenis pohon lokal khas Sumatera," ujarnya.

    Saat ini, area kawasan Kelurahan Kedaton, Kecamatan Kayu Agung, Kabupaten Ogan Komering Ilir, ini telah ditumbuhi jenis pohon yang sulit tumbuh secara alami, seperti ramin, jelutung rawa, punak, perupuk, meranti, medang kelir, beriang, dan gelam. Pemilihan jenis tanaman tersebut didasarkan pada pertimbangan khusus. Ramin dan jeluntung, misalnya, saat ini sudah masuk ke dalam daftar pohon dilindungi.

    Baca pula:
    Kemarau Diprediksi Panjang, Sumatera Selatan Cegah Kebakaran 

    Hari ini, Delegasi The 1st Asia Bonn Challenge High Level Roundtable Meeting dari berbagai negara di Asia-Pasifik mengunjungi Desa Sepucuk, Ogan Komering Ilir. Lahan bekas terbakar pada beberapa tahun lalu itu kini kembali ditumbuhi berbagai pohon langkah secara alami dan melalui program penanaman kembali. Tabroni, Kepala BP2LHK Palembang, mengatakan delegasi akan menanam pohon jenis ramin sebanyak 40 batang dan jelutung 20 batang.

    "Juga akan ditanam jenis belangeran dan perupuk," tutur Alex Noerdin. Menurut dia, belangeran disiapkan sebanyak 25 batang dan perupuk 15. Sebelum melakukan penanaman, para delegasi akan mendapatkan penjelasan secara detail tentang pemanfaatan lahan seluas lebih dari 20 hektare di Sumatera Selatan tersebut dari BP2LHK pusat. Saat ini, lahan yang terdiri atas gambut dangkal dan dalam itu sudah ditumbuhi 25 jenis tanaman langkah serta dilindungi, seperti ramin, jelutung, dan gelam.

    PARLIZA HENDRAWAN

    Infografis Terkait: 2 Tahun Setelah Amuk Lahan Gambut


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Diduga Ada Enam Perkara Di Balik Teror Terhadap Novel Baswedan

    Tim gabungan kepolisian menyebutkan enam perkara yang ditengarai menjadi motif teror terhadap Penyidik KPK Novel Baswedan.