Dijaga Aparat, Bedah Buku Karya Haidar Bagir di IAIN Solo Lancar  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemilik toko buku MP Point, Haidar Bagir, di kawasan Jeruk Purut, Jakarta, Rabu, 25 April 2007. [TEMPO/ Novi Kartika

    Pemilik toko buku MP Point, Haidar Bagir, di kawasan Jeruk Purut, Jakarta, Rabu, 25 April 2007. [TEMPO/ Novi Kartika

    TEMPO.CO, Solo - Acara bedah buku dengan pembicara Haidar Bagir di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Solo, Selasa, 9 Mei 2017, berjalan dengan lancar. Meskipun ratusan massa sempat menggelar demonstrasi di depan kampus menolak kegiatan tersebut, tapi tidak ada gangguan hingga akhir acara.

    Massa pengunjuk rasa berdatangan sejak pagi sebelum acara bedah buku berlangsung. Demikian juga dengan sekitar 1.000 personel polisi dan tentara yang mengamankan jalannya acara tersebut.

    Baca: Bedah Buku Karya Haidar Bagir di Solo Ditolak Kelompok Tertentu

    Petugas keamanan menjaga ketat setiap pintu masuk kompleks kampus. Para pendemo hanya berkumpul dan berorasi di jalan depan kampus tanpa berusaha menerobos penjagaan.

    "Kami memang tidak berniat menyerang ataupun mengganggu acara bedah buku," kata koordinator aksi, Tengku Azhar. Tengku menuturkan massa hanya ingin mengingatkan pihak kampus yang telah mengundang Haidar, yang dia sebut sebagai penganut paham Syiah.

    Menurutnya, Syiah telah membawa perpecahan lantaran sering mencela keluarga dan sahabat Rasulullah. Tengku mengaku kecewa dengan sikap pihak kampus yang memberikan panggung kepada orang yang ditudingnya sebagai penganut Syiah itu.

    Simak: Massa Pemuda Pancasila Bubarkan Pameran Bertema Wiji Thukul

    Adapun Haidar, dalam acara bedah buku, membantah tudingan tersebut. Dia mengaku sangat menghormati keluarga serta sahabat Rasulullah. "Saya bahkan selalu menambahkan kata Sayyidina sebelum menyebut nama para sahabat," katanya.

    Rektor IAIN Solo Mudofir juga membantah kampus telah memberikan panggung terhadap kelompok atau paham tertentu. "Kampus merupakan tempat bagi mahasiswa untuk mempelajari berbagai paham dan aliran," ujarnya.
     
    Selain itu, panitia sebenarnya telah memberi kesempatan kepada kelompok yang berseberangan untuk ikut menjadi pembicara dalam acara bedah buku itu. "Sayang, mereka menolaknya," ucapnya. Padahal panitia sudah mengirim surat undangan sebagai pembicara secara resmi.

    Mudofir menyebutkan acara bedah buku merupakan kegiatan ilmiah yang diselenggarakan mahasiswa. Pihak rektorat IAIN Solo, kata dia, memberikan dukungan penuh terhadap acara itu. Meski sempat mendapat tekanan, rektorat tidak meminta mahasiswa membatalkan acara tersebut.

    AHMAD RAFIQ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.