Kasus Napi Kabur, Menteri Yasonna Laoly Siapkan Surat Pemecatan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly saat wawancara khusus dengan tim Majalah TEMPO. TEMPO/Ridian Eka Saputra

    Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly saat wawancara khusus dengan tim Majalah TEMPO. TEMPO/Ridian Eka Saputra

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna Laoly mengatakan harus ada pihak yang bertanggung jawab atas kaburnya para tahanan di Rumah Tahanan Kelas II B Kota Pekanbaru. Selain di tingkat kepala rumah tahanan (Rutan), dua level di atasnya, yaitu kepala divisi dan kepala kantor wilayah, mesti bertanggung jawab.

    "Kepala pengamanan dan kepala rutan hari ini akan saya pecat dengan tidak hormat," kata Yasonna Laoly di Kantor Wakil Presiden, Senin, 8 Mei 2017. Tak hanya itu, Menteri Yasonna pun sudah meminta Wakil Kepala Kepolisian Daerah Riau dan Kepala Kepolisian Resor Kota Pekanbaru mengusut dugaan tindak pidana dalam kasus kaburnya para napi itu.

    Baca pula:
    Napi Kabur di Pekanbaru, Menteri Yasonna Gebrak Meja Berkali-kali
    Pungli Picu Napi Pekanbaru Kabur, Yasonna: Perilaku Ini Biadab

    Pekan lalu, 448 tahanan kabur dari Rutan Kelas II B Pekanbaru. Kaburnya para tahanan disebut-sebut karena terjadi praktik pungutan liar dan pemerasan. Padahal Yasonna sudah berkali-kali memperingatkan agar pungli serta pemerasan di rutan dan lembaga pemasyarakatan ditiadakan.

    Menanggapi kasus kaburnya tahanan di Pekanbaru, Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai pemerintah sudah menyiapkan anggaran untuk memperbaiki rutan atau LP. Namun, di sisi lain, jumlah tahanan terus bertambah. "Nanti akan kami perbaiki," ujarnya.

    Yasonna Laoly menilai tindakan yang dilakukan oknum rutan itu sudah melebihi batas. "Yang begini sudah tidak bisa ditoleransi, supaya jadi pelajaran bagi yang lain," tuturnya.

    ADITYA BUDIMAN



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.