3 Napi LP Makassar Kabur, Petugas Selidiki Asal-usul Gergaji

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas menbuka pintu saat terpidana teroris dipindahkan dari Markas Komando Brimob, Jakarta dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas 1 Gunung Sari, Makassar, 21 April 2016. Pemindahan tersebut berdasarkan surat yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pemasyarakatan. TEMPO/Sakti Karuru

    Petugas menbuka pintu saat terpidana teroris dipindahkan dari Markas Komando Brimob, Jakarta dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas 1 Gunung Sari, Makassar, 21 April 2016. Pemindahan tersebut berdasarkan surat yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pemasyarakatan. TEMPO/Sakti Karuru

    TEMPO.CO, Makassar-Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas 1 Makassar Marasidin Siregar mengakui kaburnya tiga narapidana Minggu dini hari diakibatkan minimnya petugas jaga. Petugas, kata dia, hanya berjumlah delapan orang.  Ada enam pos yang mereka jaga, sementara dua pos lainnya tidak.

    "Petugas kami memang tiap jaga hanya delapan orang. Jadi ada petugas yang jaga di atas dan bawah. Kalau di atas semua yang di bawah nanti tidak ada yang jaga," kata Marasidin, Minggu siang, 7 Mei 2017.

    Marasidin menuturkan jumlah narapidana di LP Makassar sebanyak 1.133 orang. Jumlah itu tak sebanding dengan petugas yang hanya delapan orang. Karena itu, lanjut Marasidin, pihaknya akan mengevaluasi kewaspadaan terhadap petugas penjara. "Kita tidak punya kamera pemantau (CCTV), jadi tak ada kamera pengawas. Petugas kami mengontrol dua jam sekali," ucap dia.

    Baca: Gergaji Terali Besi, 3 Narapidana LP Makassar Kabur

    Marasidin membandingkan dengan LP lain yang memiliki pagar tembok keliling dilapisi didinding blok dan ornamesh. "Kalau di sini dari tembok kamar langsung tembok keliling," tuturnya. Ihwal adanya gergaji yang digunakan untuk memotong terali besi, Marasidin akan menyelidiki asal-usulnya. "Kami akan cari dari mana (asal) barang-barang itu," ujarnya.

    Menurut dia tiga tahanan berhasil kabur setelah mamanjat pagar menggunakan tali. Mereka juga memakai tali untuk turun. Tiga narapidana yang kabur berada dalam satu blok dan satu kamar, yaitu Blok A1 kamar 10. "Kami sudah koordinasi dengan Polda, Polrestabes dan Polsek Rappocini untuk pencarian."

    Simak: 212 Tahanan Kabur di Pekanbaru Telah Ditangkap

    Juru bicara Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan Komisaris Besar Dicky Sondani mengatakan narapidana yang kabur merupakan penjahat kelas berat. Sebab dua di antaranya, yakni Rijal dan Tajrul, divonis seumar hidup. Adapun satu narapidana, Iqbal, divonis mati. "Mereka ini terlibat kasus pembunuhan," kata Dicky.

    Menurut dia, mereka kabur dengan cara menggergaji ventilasi udara yang ada di dalam kamar. Kemudian mereka meloncat melewati gorong-gorong air dan selanjutnya meloncat ke pos. "Ventilasinya tidak terlalu besar, mungkin dengan kepala aja cukup masuk. Ada dua besi, satu yang mereka gergaji. Kita lihat ada barang buktinya gergaji kecil," urainya. "Kebetulan di pos tak ada orang jaga."

    Lihat: Polisi Soppeng Tembak Mati Tahanan Kasus Narkoba yang Kabur

    Selain gergaji kecil, kata Dicky, ditemukan juga paku-paku yang ada di pagar yang telah dibengkokkan. Bentuknya seperti jangkar.  Menurut dia, delapan orang petugas memang berat untuk mengawasi 1.133 narapidana.

    Dicky mengimbau kepada tahanan yang kabur ini agar menyerahkan diri. Jika tidak, polisi akan bertindak tegas. "Kita sudah bentuk tim, kita akan kejar ke mana pun. Lembaran DPO juga telah kita sebar," katanya.

    DIDIT HARIYADI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sidang MK Terkait Sengketa Pilpres 2019 Berlangsung Dua Pekan

    Sidang MK terkait sengketa Pilpres 2019 memasuki tahap akhir. Majelis hakim konstitusi akan membacakan putusannya pada 27 Juni. Ini kronologinya.