BNPB: 1.087 Bencana Terjadi Sepanjang 2017, 166 Orang Tewas

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tim SAR gabungan mencari korban yang tertimbun longsor di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Ponorogo, Jawa Timur, 7 April 2017. Menurut neneknya, Brian terus-terusan menangis saat mengetahui orang tuanya hilang dalam bencana longsor. ANTARA/Zabur Karuru

    Tim SAR gabungan mencari korban yang tertimbun longsor di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Ponorogo, Jawa Timur, 7 April 2017. Menurut neneknya, Brian terus-terusan menangis saat mengetahui orang tuanya hilang dalam bencana longsor. ANTARA/Zabur Karuru

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 1.087 bencana terjadi selama Januari hingga 5 Mei 2017. Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, bencana tersebut telah menyebabkan 166 orang meninggal dan hilang, 313 orang luka-luka, serta 1.036.362 orang menderita dan mengungsi.

    "Bencana juga menyebabkan 14.117 rumah rusak, yaitu 2.578 rumah rusak berat, 2.315 rumah rusak sedang, dan 9.224 rumah rusak ringan. Selain itu, 453 fasilitas publik rusak, seperti 266 sekolah dan madrasah, 161 fasilitas ibadah, dan 26 fasilitas kesehatan," kata Sutopo dalam rilisnya, Jumat, 5 Mei 2017.

    Menurut Sutopo, bencana tersebut membuat kesejahteraan masyarakat merosot. Sebagian besar bencana pun terjadi di pedesaan di mana masyarakat berada pada kelompok berpenghasilan menengah ke bawah.

    Baca: Longsor di Ponorogo, Ini Penyebabnya Menurut Pakar LIPI

    "Bencana menimbulkan kemiskinan absolut di mana petani yang terjerat kredit usaha tani makin bertambah hutangnya ketika bencana merusak lahan pertaniannya."

    Sutopo memperkirakan hujan ekstrim masih berpeluang terjadi hingga pertengahan Mei. Menurut Sutopo, perubahan cuaca yang mendadak dan diikuti hujan lebat dapat memicu terjadinya banjir, longsor, dan puting beliung. "Saat ini, frekuensi hujan berintensitas tinggi makin sering terjadi. Dampak perubahan iklim global makin meningkatkan frekuensi hujan ekstrim."

    Selain itu, Sutopo berujar, degradasi lingkungan dan luasnya lahan kritis menyebabkan sebuah wilayah makin rentan terkena bencana. Apalagi, banyak masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana. Sekitar 64 juta penduduk terpapar bahaya banjir sedang hingga tinggi. Adapun sekitar 41 juta penduduk terpapar oleh bahaya longsor sedang hingga tinggi.

    Baca: Banjir Bandang Sergap Ciwidey, Rumah Warga Rusak

    Oleh karena itu, menurut Sutopo, pengurangan risiko bencana (PRB) menjadi salah satu faktor penting yang mesti diperhatikan dalam pembangunan. Kegiatan PRB merupakan investasi dalam pembangunan. "Beberapa penelitian menunjukkan bahwa setiap US$ 1 US yang digunakan untuk PRB dapat mengurangi kerugian akibat bencana sekitar US$ 7-40," katanya.

    ANGELINA ANJAR SAWITRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.