Tangkal Aksi Radikal, Said Aqil: Peran Perempuan Sangat Penting  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Aqil Siradj, menyampaikan pesan moral kebangsaan dan catatan akhir tahun dengan tema anak ayam tak boleh kehilangan induknya, di Gedung PBNU, Jakarta, 24 Desember 2015. TEMPO/Imam Sukamto

    Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Aqil Siradj, menyampaikan pesan moral kebangsaan dan catatan akhir tahun dengan tema anak ayam tak boleh kehilangan induknya, di Gedung PBNU, Jakarta, 24 Desember 2015. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Palangkaraya - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menegaskan peran perempuan dalam menangkal radikalisme sangat penting. Sebab, semuanya dimulai dari dalam rumah, bukan luar rumah.

    Penegasan itu dikatakannya saat pembukaan Rapat Kerja Nasional Fatayat NU di Hotel Swissbell Danum, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Kamis malam, 4 Mei 2017.

    Baca:
    Gubernur dan Polda NTT Kebanjiran Karangan Bunga Penolak Radikalisme

    Gubernur NTT Tolak Kehadiran FPI, Apa Alasannya?

    Misalnya, ujar dia, di sekolah, dia diajari mengenai budi pekerti dan budaya. Tapi di luar sekolah, masih ada pertemuan-pertemuan lain mengenai radikalisme.

    "Di sekolah resmi, tidak ada yang mengajari tentang radikalisme. Radikalisme itu dilakukan di luar sekolah. Karena itu, peran perempuan di rumah, dalam hal ini ibu, sangat penting untuk menangkal radikalisme," tutur Said Aqil.

    Simak:
    Cegah Radikalisme, Boni Hargens: NU-Muhammadiyah Perlu Berperan

    Pembukaan Rakernas Fatayat NU oleh Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani itu juga dihadiri Gubernur Kalimantan Tengah Sugianto Sabran dan Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Tengah Brigadir Jenderal Anang Revandoko.

    Selain itu, Said menyebutkan menonton YouTube tentang radikalisme dan terorisme sangat berbahaya dibanding menonton pornografi. "Menonton terorisme itu lebih berbahaya daripada gambar perempuan telanjang," ujarnya.

    Baca juga: Bachtiar Nasir Ajak Massa Aksi 505 Bisa Terima Hasil Sidang Ahok

    Hal ini karena orang yang menonton pornografi akan cenderung merasa bersalah. Namun tidak demikian bila melihat materi terorisme. Ada kecenderungan individu yang menyaksikan materi terorisme akan teracuni pikirannya.

    "Setelah nonton terorisme lalu keluar dari rumah membunuh dan dibunuh, maka dosanya dimaafkan dan masuk surga. Mereka tak tahu konteksnya apa, situasi kapan untuk berjihad," ujarnya.

    KARANA W.W.



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hypermarket Giant dan Tiga Retail yang Tutup 2017 - 2019

    Hypermarket Giant akan menutup enam gerainya pada Juli 2019. Selain Giant, berikut gerai ritel yang yang bernasib sama dalam dua tahun terakhir.