Konvoi Pelajar di Klaten, Korban Berdatangan ke Kantor Polres

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tri Purnomo Adi, pelajar kelas 3 SMK Kristen 5 Klaten, diantar kedua orangtuanya melapor ke Polres Klaten. Tri adalah salah satu korban penganiayaan rombongan pelajar yang berkonvoi di Klaten pada Selasa lalu. Tanpa sebab, Tri dikeroyok hingga pingsan saat dalam perjalanan ke sekolah untuk menengok hasil pengumuman kelulusan. Tempo/DINDA LEO LISTY

    Tri Purnomo Adi, pelajar kelas 3 SMK Kristen 5 Klaten, diantar kedua orangtuanya melapor ke Polres Klaten. Tri adalah salah satu korban penganiayaan rombongan pelajar yang berkonvoi di Klaten pada Selasa lalu. Tanpa sebab, Tri dikeroyok hingga pingsan saat dalam perjalanan ke sekolah untuk menengok hasil pengumuman kelulusan. Tempo/DINDA LEO LISTY

    TEMPO.CO, Klaten - Keinginan Tri Purnama Adi, 18 tahun, untuk segera menyusul dua kakaknya yang bekerja di Jakarta terpaksa tertunda. Musababnya, ia menjadi korban konvoi pelajar di Klaten. “Biar anak saya istirahat dulu di rumah sampai sembuh total,” kata Ayem, 50 tahun, warga Desa Basin, Kecamatan Kebonarum, Kabupaten Klaten, itu saat ditemui Tempo di kantor Kepolisian Resor Klaten pada Kamis, 4 Mei 2017.

    Tri Purnama Adi adalah siswa kelas XII SMK Kristen 5 Kabupaten Klaten. Selasa 2 Mei 2017 lalu, di tengah perjalanan ke sekolah untuk menunggu pengumuman kelulusan, Purnama dikeroyok sekelompok pelajar dari sejumlah SMK dan SMA yang berkonvoi di wilayah Kabupaten Klaten. Akibatnya, remaja itu menderita luka di sekujur tubuhnya.

    Baca: Konvoi Pelajar Rusuh di Klaten, Polisi: Ada Calon Tersangka Lain

    Pelipis mata kirinya bengkak ditambal perban putih tebal. Bekas luka yang masih basah menganga di pipi kiri, ujung hidung, bibir atas, dan di dagunya. Jalannya pun masih terseok-seok, sehingga harus dipapah kedua orangtuanya, Marjono dan Ayem, yang bekerja sebagai buruh serabutan.

    “Biaya pengobatan anak saya sudah ditanggung pak polisi. Kami tidak dendam dengan mereka yang menganiaya anak saya,” kata Marjono, 60 tahun. Jika tidak menjadi korban amukan konvoi pelajar, Marjono berujar, Purnama akan segera ke Jakarta. “Dia diajak kakaknya yang sudah bekerja di pabrik di Jakarta,” ujar Marjono.

    Pada Selasa pukul 14.00, Purnama berangkat ke sekolah mengendarai sepeda motor Yamaha Vega. Dia memboncengkan Munawir, temannya sesama siswa kelas XII SMK Kristen 5 Klaten. Sesampainya di simpang empat Desa Nglinggi, Kecamatan Klaten Selatan, Purnama berpapasan dengan segerombolan pelajar yang sedang berkonvoi.

    Baca: Kisah Korban Keganasan Konvoi Pelajar di Klaten

    “Tiba-tiba kami langsung dipepet terus sampai jatuh dari motor. Belum sempat bangun, kami langsung dikeroyok. Pelipis mata saya kena sabetan gir. Sedangkan Munawir kena sabetan gir di dadanya,” kata Purnama. Dia yang mengaku tidak ingat berapa jumlah pelajar yang mengeroyoknya. “Saat itu saya tergeletak di jalan sampai pingsan,” kata Purnama.

    Purnama adalah salah satu dari sejumlah pelajar yang melapor ke Polres Klaten karena telah dianiaya sekelompok pelajar yang berkonvoi di Klaten. “Sampai hari ini sudah ada delapan pelajar yang melapor,” kata Kepala Polres Klaten, Ajun Komisaris Besar Muhammad Darwis.

    Baca: Marak Hoax Tawuran Pelajar di Klaten, Mendikbud Cek ke Lapangan

    Darwis mengatakan, tidak satu pun korban penganiayaan rombongan konvoi pelajar itu yang meninggal dunia. “Semuanya dirawat jalan, tiga di antaranya cukup serius,” kata Darwis menepis maraknya berita palsu (hoax) yang beredar di media sosial.

    Menurut Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Klaten, Ajun Komisaris David Widya Dwi Hapsoro, tidak menutup kemungkinan jumlah korban tawuran pelajar di Klaten yang melapor akan terus bertambah. “Tidak hanya menunggu laporan, kami juga jemput bola (mendatangi para korban). Doakan saja dalam waktu dekat ini bisa tertangkap semua pelakunya,” kata David.

    DINDA LEO LISTY


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Manfaat dan Dampak Pemangkasan Eselon yang Dicetuskan Jokowi

    Jokowi ingin empat level eselon dijadikan dua level saja. Level yang hilang diganti menjadi jabatan fungsional.