40 Penari Striptis Diciduk di Tulungagung, 2 Masih Remaja

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi: Nita Dian

    Ilustrasi: Nita Dian

    TEMPO.CO, Surabaya - Personel Sub Direktorat IV Remaja, Anak, dan Wanita Direktorat Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah Jawa Timur menangkap 40 perempuan yang diduga bekerja sebagai penari telanjang (striptis) di tempat hiburan malam di wilayah Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.

    Selain menangkap 40 perempuan, polisi meringkus tiga orang yang diduga sebagai mucikari. "Saat ini mereka sedang kami periksa di ruangan Unit IV Renakta," kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jawa Timur, Komisaris Besar Agung Yudha, Kamis, 4 Mei 2017.

    Agung mengatakan perempuan muda yang diamankan itu rata-rata berusia 18-25 tahun. Mereka diciduk pada Rabu, 2 Mei 2017, di sebuah tempat hiburan malam di Kabupaten Tulungagung. Saat ditangkap, kata dia, mereka tengah melayani tamu di dalam kamar dengan aksi tarian telanjang.

    Dari hasil pemeriksaan sementara, lanjut dia, tarif per jam untuk menyaksikan tarian telanjang itu sebesar Rp 700 ribu. Selain mempertontonkan tarian telanjang kepada pengunjung, mereka diduga melayani hubungan seksual di tempat di mana mereka menari.

    Menurut Agung, mereka didatangkan dari sejumlah daerah di Jawa Timur dan Jawa Barat. Di antaranya Malang dan Bandung. "Dua perempuan yang berasal dari Bandung masih di bawah umur," kata perwira menengah yang pernah menjabat Ditreskrimum Polda Kalimantan Selatan itu.

    Yudha menduga bisnis esek-esek itu sudah berlangsung sejak lama dengan jaringan lintas wilayah di Jawa Timur. Untuk keperluan pemeriksaan lebih lanjut, kata dia, penyidik menahan tiga mucikari. Sedangkan 40 perempuan tersebut siang tadi dipulangkan setelah diperiksa sejak Rabu lalu.

    NUR HADI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    RZWP3K, Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

    Sebanyak 21 provinsi telah menerbitkan Peraturan Daerah Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil yang dianggap tak berpihak pada nelayan.