Mbah Gotho Sebelum Wafat, Kalau Sakit Minta Kerok Lalu Sehat Kembali  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mbah Gotho semasa hidup juga berkukuh pada ingatannya bahwa ketika peresmian Pabrik Gula Gondang, Sragen, saat itu dia sudah ikut datang menonton. Sejarah mencatat Pabrik Gula Gondang Sragen dibangun pada 1880. dailymail.co.uk

    Mbah Gotho semasa hidup juga berkukuh pada ingatannya bahwa ketika peresmian Pabrik Gula Gondang, Sragen, saat itu dia sudah ikut datang menonton. Sejarah mencatat Pabrik Gula Gondang Sragen dibangun pada 1880. dailymail.co.uk

    TEMPO.CO, Sragen- Cuaca panas sendikit mendung menyelimuti wilayah sekitar Dukuh Segeran, Desa Cemeng, Sambung Macan, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, bertepatan suasana duka atas wafatnya Mbah Gotho, seorang laki-laki yang memiliki usia 146 tahun. Kematian Sidomejo, nama asli Mbak Gotho, segera tersiar ke seluruh penjuru dunia.

    Suwarni, 42 tahun, di antara cucu Mbah Gotho, mengatakan kakeknya ketika kakeknya diperiksa oleh dokter di RSUD Sragen. Sebelumnya, kata Suwarni, kakeknya pernah menjalani tes DNA oleh tim dokter dari luar negeri.

    Baca: Kisah Mbak Gotho, Berumur 145 Tahun dan Sains di Baliknya

    Semasa hidup, kata Suwarni, jika badannya merasakan tidak enak, Mbah Gotho hanya dikerok dan kemudian merasa sehat kembali. Mbah Gotho juga mendapat bantuan alat pendengaran. Alat tersebut sangat membantu ketika menerima tamu dan mengajak bicara. “Namun, sejak sakit alat pendengaran itu tidak dikenakan lagi.”

    Suwarni mengatakan, Mbah Gotho saat sakit pernah mengatakan jika sudah sembuh ingin bermain ke rumah cucunya di Ngawi, sebuah kabupaten di Jawa Timur yang berbatasan dengan Sragen. Keinginan itu tak terkabul karena kesehatannya terus menurun hingga meninggal pada Minggu, 30 April 2017 pukul 17.45 WIB.

    Suwarni menceritakan, Mbah Gotho merupakan anak kedua dari 12 bersaudara yang semuanya sudah meninggal dunia. Semasa mudanya Mbah Gotho dikenal sebagai petani dan gemar mencari ikan di Bengawan Solo.

    Baca: Diklaim Berusia 146 Tahun, Mbah Gotho: Kok do Nonton Aku?

    Selain duka menolong, Mbah Gotho  juga dikenal penyabar dan apapun disikapi dengan ikhlas. "Beliau pada zaman perang melawan penjajah Belanda, sering menolong para pejuang yang terluka,”  kata Suwarni menambahkan.

    Wakil Bupati Sragen Dedy Endriyatno mengaku, Pemerintah Kabupaten Sragen sedang mempertimbangkan cara mengenang Mbah Gotho. “Kami belum sempat memikirkan, apakah akan dibuatkan museum, monumen atau apa,” kata Dedy saat ditemui Tempo seusai menghadiri upacara pemakaman Mbah Gotho.

    Baca: Mbah Gotho, Manusia Tertua di Dunia, Sudah Pesan Nisan Sejak 1992 

    Dedy mengatakan, pada saatnya nanti pemerintah kabupaten mengenang Mbah Gotho yang turut melambungkan nama Sragen ke dunia internasional. “Nanti pasti akan ada pemikiran ke arah itu. Seperti Kho Ping Hoo, mesin ketiknya, mesin cetaknya, juga akan kami bikinkan museum,” kata Dedy.

    Kho Ping Hoo alias Asmaraman Sukowati, penulis cerita silat yang terkenal pada era 1970-an lahir di Sragen pada 17 Agustus 1926. Informasi yang dihimpun Tempo, museum yang bakal menampung karya-karya Kho Ping Hoo itu akan dibangun di rumahnya di seputaran Jalan Ahmad Yani Sragen. Untuk mengenang Mbah Gotho, pemerintah daerah sedang memikirkannya.

    DINDA LEO LISTY | ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sidang MK Terkait Sengketa Pilpres 2019 Berlangsung Dua Pekan

    Sidang MK terkait sengketa Pilpres 2019 memasuki tahap akhir. Majelis hakim konstitusi akan membacakan putusannya pada 27 Juni. Ini kronologinya.