Menyulap Kotoran Sapi Jadi Berguna, Punya Nilai Ekonomis Pula

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kandang sapi di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) PD Dharma Jaya, Cakung, Jakarta Timur, 24 September 2015. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Kandang sapi di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) PD Dharma Jaya, Cakung, Jakarta Timur, 24 September 2015. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Balikpapan - Keluarga Ahmad Solihin bisa tersenyum lebar. Limbah kotoran sapinya sudah tidak lagi mengganggu, bahkan memiliki nilai ekonomis tinggi. “Padahal kami sempat kebingungan dengan limbah kotoran sapi ini,” kata Ahmad Solihin, Warga Kelurahan Teluk Pamedas, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Minggu, 30 April 2017.

    Kelompok Tani Ternak Sejahtera Jaya Teluk Pamedas merupakan salah satu penerima manfaat program corporate social responsibility (SCR) Total E&P Indonesie (TEPI). Perusahaan minyak gas asal Prancis menghibahkan 6 ekor sapi unggul pada petani Teluk Pamedas tahun 2010 silam.

    Baca juga:

    Teknologi Anak Negeri Olah Kotoran Sapi Jadi Gas

    Kini, sapi-sapi itu telah beranak pinak menjadi 100 ekor dikelola 15 anggota Kelompok Tani Ternak Sejahtera Jaya. Ahmad Solihin sebagai Ketua Kelompok, memperoleh bagian 6 ekor sapi yang setiap hari menghasilkan 30 kilogram limbah kotoran sapi. “Kami bingung, apa mau dibikin pupuk kandang atau dibuang saja. Tentunya bila dibuang sembarangan akan diprotes tetangga sekitar,” kata Solihin.

    Selanjutnya, Solihin mencoba memproses kotoran sapi yang mulai mengganggu di pekarangan rumahnya. TEPI turut membantu pembangunan instalasi pengolahan kotoran sapi menjadi biogas berupa bungker kapasitas 50.000 kilogram hingga sambungan gas ke tiga rumah percontohan tahun 2014 lalu. “TEPI membantu material untuk membangun bunker dan instalasi ke rumah rumah senilai Rp 50 juta. Warga mengerjakan sendiri pembangunannya dibantu tenaga ahli TEPI,” tuturnya.

    Baca pula:

    Biogas dari Kotoran Sapi 

    Proses pembuatan biogas terbilang mudah. Solihin hanya perlu memastikan ketersediaan 15 kilogram kotoran sapi dicampur air di bungker yang tertanam dalam tanah. Secara alamiah, bungker kotoran sapi ini memproduksi biogas yang disalurkan ke tiga keluarga Arbain, Hatta dan Solihin.

    “Bungker kapasitas 5 kubik ini mampu memenuhi kebutuhan sehari hari tiga keluarga. Setiap hari masukan 15 kilogram kotoran sapi dicampur dengan air ke dalam bungker,” ujarnya.  Ampas proses biogas ini, kata Solihin, keluar dengan sendirinya dari saluran pembuangan kotoran bungker. Ampas ini juga bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan pupuk kandang tanaman.
    Ramillah mengatakan, keluarga sudah rutin memanfaatkan penggunaan biogas sejak 2014 silam. Selama tiga tahun ini, dia mengaku mampu menghemat pembelian gas untuk kebutuhan memasak rumah tangganya.

    Silakan baca:
    Pembangkit Listrik dari Kotoran Sapi

    “Sudah tidak pernah beli gas lagi, apalagi energi biogas bisa diandalkan panasnya. Apalagi tidak perlu membeli, bahan bakarnya ada di kandang sapi,” tutur istri, Ahmad Solihin ini menerangkan.
    Sebelumnya, Ramilah mengaku memanfaatkan setidaknya tiga tabung gas ukuran 3 kilogram per bulannya. Bila satu tabung gas seharga Rp 25 ribu, menurutnya keluarga harus mengeluarkan biaya Rp 75 ribu per bulannya untuk keperluan masak memasak.

    “Sekarang sudah tidak perlu lagi membeli gas atau bahan bakar lainnya,” ujarnya.
    Keluarga Ramilah hanya cukup memantau indikator tekanan biogas yang ditempatkan di dapur rumahnya. Indikatornya berupa selang tembus pandang yang dalamnya berisi air biasa. “Kalau airnya makin naik, artinya tekannya makin berkurang. Tinggal ditambah saja kotoran sapinya di dalam bungker biogas,” kata dia.

    Ramilah menyatakan, hibah sapi TEPI mampu meningkatkan kesejahteraan keluarganya secara berkelanjutan. Hingga saat ini, dia mempunyai enam ekor sapi yang harganya berkisar Rp 15 juta hingga Rp 25 juta per ekornya. “Ditambah pengolahan biogas yang memberikan manfaat rumah tangga,” kata Solihin.

    Jelang berakhirnya operasi TEPI di Blok Mahakam, Ramilah berharap operator selanjutnya mampu melanjutkan program CSR dijalankan perusahaan asal Perancis ini. Menurutnya, keberadaan operator migas bermanfaat bagi seluruh negeri dan masyarakat di sekitar lokasi Blok Mahakam.
    Humas TEPI, Kristanto Hartadi mengatakan, perusahaanya komitmen dalam pengembangan keberdayaan masyarakat di sekitar lokasi wilayah operasi Blok Mahakam. Salah satunya dengan bantuan hibah sapi bagi masyarakat Teluk Pamedas di Kutai Kartanegara.

    “Kami menggaji setiap proposal program masyarakat. Tim teknis TEPI menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat disini,” paparnya. TEPI memprioritaskan program program yang mampu memicu keberlanjutan bagi masyarakat. Menurutnya, program sapi dan biogas Teluk Pamedas menjadi salah satu contoh yang mampu memberdayakan masyarakat.
    “Sehingga mereka tetap mampu melanjutkan programnya tanpa adanya bantuan dari pihak luar lagi,” kata dia.

    TEPI memang segera mengakhiri kontrak sebagai operator Blok Mahakam di penghujung akhir tahun 2017 nanti. Pemerintah Indonesia resmi menunjuk PT Pertamina (Persero) sebagai pengelola Blok Mahakam menggantikan TEPI.

    Kristanto mengharapkan, program program CSR TEPI nanti dilanjutkan Pertamina sebagai operator baru Blok Mahakam. Selama ini, dia menyebutkan, TEPI berupaya maksimal mendorong pengembangan masyarakat Senipah yang fokus dibidang pendidikan, kesehatan dan lingkungan.

    SG WIBISONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pro Kontra Kemendikbud Menerapkan Zonasi Sekolah pada PPDB 2019

    Zonasi sekolah di PPDB yang diterapkan Kemendikbud memicu pro dan kontra. Banyak orang tua menganggap sistem ini tak adil dan merugikan calon siswa