Polisi Ringkus Buron Kasus Pungli Pelabuhan Samarinda

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah anggota Brimob Polda Kaltim menjaga penggeledahan di kantoe PDIB Samarinda terkait kasus pungli di pelabuhan peti kemas, Senin 20 Maret 2017. Polisi sudah menetapkan dua orang tersangka pengurus Koperasi Serba Usaha PDIB Samarinda. TEMPO/Firman HIdayat

    Sejumlah anggota Brimob Polda Kaltim menjaga penggeledahan di kantoe PDIB Samarinda terkait kasus pungli di pelabuhan peti kemas, Senin 20 Maret 2017. Polisi sudah menetapkan dua orang tersangka pengurus Koperasi Serba Usaha PDIB Samarinda. TEMPO/Firman HIdayat

    TEMPO.CO, Jakarta  – Badan Reserse Kriminal Mabes Polri menangkap Ketua Koperasi Tenaga Kerja Bongkar Muat Samudera Sejahtera (Komura) Jaffar Abdul Gaffar, pada Ahad malam kemarin. Jaffar yang sempat masuk Daftar Pencarian Orang (DPO)  itu tertangkap di sebuah hotel di Cakung, Jakarta Timur, setelah sempat berpindah-pindah lokasi menginap.

    “Yang bersangkutan diamankan bersama keluarganya,” kata Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim, Brigadir Jenderal Agung Setya, lewat keterangan tertulisnya, Senin, 24 April 2017.

    Menurut Agung, Jaffar yang ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan pungutan liar di Pelabuhan Peti Kemas di Samarinda, Kalimantan Timur, pada 4 April lalu itu tak pernah menghadiri pemanggilan penyidik.

    Baca: Pungli Pelabuhan, Polisi Selidiki Dana Deposito Atas Nama Komura

    Dalam kasus tersebut, Jaffar disangka menjadi pihak yang bertanggung jawab atas pungutan tenaga kerja bongkar-muat kontainer di Terminal Peti Kemas Palaran Samarinda yang sudah menggunakan crane dan mesin. Dia diduga memungut biaya di luar container handling charge. Jaffar  diindikasi kerap berpindah-pindah hotel di Jakarta. “Terakhir ia menginap di Hotel Angkasa kamar 207, Cakung, Jakarta.”

    Menurut Agung, Jaffar pasrah saat dijemput penyidik. Saat ditangkap dan dibawa ke Mabes Polri Ahad malam, Jaffar mengenakan pakaian serba hitam dan topi putih. Dia pun berkata bahwa Jaffar menandatangani invoice penagihan Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) kepada perusahaan bongkar muat (PBM), di mana penagihan tersebut sebenarnya tidak memiliki dasar hukum.

    “Komura secara sepihak menetapkan tarif bongkar muat dipelabuhan, apabila PBM tidak melaksanakan, maka ada tindakan intimidasi dengan cara pengerahan massa atau preman,” ujarnya.

    Simak: Pungli Rp 6,1 M di Samarinda, Menteri Budi: Ini Kejadian Dahsyat

    Jaffar  dijerat Pasal 368 Kitab Undang Undang Hukum Pidana, Pasal 11 dan 12 Undang-Undang tentang Pemberantasan Korupsi, dan Pasal 3, Pasal 5, serta Pasal 10 Undang-Undang Pencucian Uang.

    Jaffar sendiri pernah menggelar konferensi pers demi mengklarifikasi berita operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan polisi di pelabuhan peti kemas tersebut. Jaffar pun sempat menjelaskan soal uang Rp 6,1 miliar yang disita polisi dalam OTT itu. Menurut dia, uang itu bukanlah hasil pungutan liar, tapi dana operasional untuk membayar upah buruh.

    "Kalau langsung dikategorikan bagian dari money laundry, korupsi, atau suap, saya belum bisa katakan ada bagian dari itu. Sebab, apa yang saya lakukan selama ini adalah aturan," ujarnya dalam jumpa pers di Akmani Hotel, Jakarta Pusat pada 19 Maret lalu.

    YOHANES PASKALIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cerita Saksi Soal Kebararan Pabrik Korek Api di Desa Sambirejo

    Inilah cerita saksi tentang kebakaran pabrik korek api gas di Desa Sambirejo, Langkat, Sumatera Utara memakan korban sampai 30 jiwa.