Ditabrak dan Disiram Air Keras, Novel Baswedan: Tidak Menyerah

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Novel Baswedan

    Novel Baswedan

    TEMPO.CO, Jakarta - Teror yang diterima penyidik KPK Novel Baswedan, Selasa 11 April 2017 lalu, tak menyurutkan nyalinya. Meskipun disiram air keras pada wajahnya dan mengenai matanya, tak menyurutkan langkahnya melawan korupsi. Saat Tempo menanyakannya melalui telepon kerabatnya yang mendampinginya melanjutkan pengobatannya ke Singapura, "Apakah keberanian Anda berubah setelah diserang?".  Novel menjawab, "Insya Allah tidak sama sekali," kata dia, Jumat, 11 April 2017.

    Baca juga:
    Spekulasi Penyerangnya, Novel Baswedan: Sebulan Dikuntit Orang

    Tentu saja ini bukan soal nyali dan keberanian, tapi bagaimana menjaga keberanian itu. “Berani itu tidak mengurangi umur, takut juga tidak menambah umur. Jadi, kita tidak boleh menyerah. Jangan memilih takut, karena Anda akan menjadi orang yang tidak berguna,” kata Novel Baswedan, menandaskan.

    Sikap yang ditunjukkan Novel seperti ini, tentu saja membuat koruptor yang diperanginya gerah terus menerus. Busyro Muqoddas, mantan Wakil Ketua KPK yang juga telah lama bekerja sama dengan Novel mengungkapkan, bahwa bukan sekali ini teror ditujukan pada Novel.

    Baca pula:

    Novel Baswedan Diserang, PUSaKO: Jokowi Harus Buat Tim Independen

    Penyerangan kepada Novel Baswedan, Terorisme Terencana pada KPK

    Novel Baswedan dan KPK, menurut Busyro sudah berkali-kali mendapat ancaman dan teror.  “Novel Baswedan sudah berkali-kali ditabrak dan sekarang disiram air keras,” kata Busyro kepada Tempo, Selasa, 11 April 2017.

    Busyro beranggapan, teror terhadap Novel Baswedan merupakan bukti, bahwa  kekuatan-kekuatan kontra KPK saat ini semakin brutal dan riil. “Bukan saja terhadap Novel Baswedan, tapi seluruh jajaran KPK,” kata Busyro Muqoddas.

    S. DIAN ANDRYANTO  I  BS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.