Haul Kelima Mbah Lim, Alpansa Siapkan Kado untuk Presiden Jokowi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Jokowi berdialog dengan santri saat melakukan kunjungan di Pondok Pesantren Buntet, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, 13 April 2017. Presiden menghadiri peletakan batu pertama pembangunan Gelanggang Olah Raga Pondok Buntet Pesantren. ANTARA/Oky Lukmansyah

    Presiden Jokowi berdialog dengan santri saat melakukan kunjungan di Pondok Pesantren Buntet, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, 13 April 2017. Presiden menghadiri peletakan batu pertama pembangunan Gelanggang Olah Raga Pondok Buntet Pesantren. ANTARA/Oky Lukmansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Yayasan dan Pondok Pesantren Al Muttaqien Pancasila Sakti (Alpansa) akan menggelar doa bersama untuk NKRI Pancasila Aman Makmur Damai serta Khaul (peringatan wafatnya) Almaghfurlah Mbah Lim alias KH. Moeslim Rifa’i Imampuro kelima di Halaman Joglo Perdamaian Umat Manusia Sedunia Komplek Alpansa, Dukuh Sumberejo Wangi, Desa Troso, Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten, pada Sabtu, 29 April 2017.

    “Kami mengundang Presiden Joko Widodo beserta sejumlah pejabat tinggi negara lainnya, seperti Ketua MPR, DPR, MA, dan lain-lain. Mungkin informasinya sudah sampai kepada Pak Jokowi sejak Selasa malam,” kata Ketua Yayasan Alpansa, KH. Saifudin Zuhri, saat ditemui Tempo di Alpansa pada Jumat, 14 April 2017.

    Baca : Dimakamkan di Ponpes Al Hikam Depok, Ini Wasiat KH Hasyim Muzadi

    Mbah Lim, salah satu sesepuh kaum Nahdlatul Ulama yang dikenal sangat dekat dengan Presiden Abdurrahman Wahid, mendirikan Alpansa pada 1994. Kyai nyentrik yang juga dikenal sebagai guru spiritual sejumlah elit politik nasional itu wafat di usia 91 tahun pada 24 Mei 2015.

    Meski memahami kesibukan presiden dan para pejabat tinggi tersebut, Zuhri berharap mereka bersedia meluangkan waktunya. Sebab, inti acara dari Haul Mbah Lim adalah mendoakan keselamatan bangsa yang dinilai telah koyak karena maraknya kasus korupsi, terorisme, intoleransi, narkoba, dan lain-lain. “Haul Mbah Lim itu cuma nebeng saja,” kata putra ketiga Mbah Lim itu.

    Selain itu, Alpansa telah menyiapkan hadiah besar bagi NKRI yang tak bisa dinilai dengan uang. “Kalau Presiden mau datang, saya persilakan agar NKRIPAMD (NKRI Pancasila Aman Makmur Damai) ini dikukup (diambil semua), kami tidak punya pamrih apapun,” kata Zuhri.

    NKRIPAMD bukan sekadar jargon yang tertulis di tembok-tembok Alpansa dan, bahkan, tercantum dalam sebaris doa yang dilantunkan para muazinnya tiap usai iqomah. NKRIPAMD adalah sebuah konsep yang digagas Mbah Lim untuk mempertahankan keutuhan NKRI. Sejak Alpansa didirikan, konsep tersebut telah diaplikasikan ke dalam sistem pendidikan Alpansa.

    Simak pula : Perbaikan Jembatan Cipamingkis Butuh Dana Sekitar Rp 30 Miliar

    “NKRI Harga Mati itu masih semu. Karena mereka yang ingin mengganti Pancasila sebagai ideologi negara itu juga berkoar NKRI Harga Mati. Kalau NKRIPAMD itu jelas. Siapa yang tidak setuju dengan Pancasila, silakan keluar dari Indonesia,” ujar Zuhri.

    Kepala Madrasah Aliyah (MA) Alpansa Yayuk Madayani menambahkan, sepeninggal Mbah Lim, NKRIPAMD kini dirumuskan dalam kurikulum tambahan selain dari Kementerian Agama.

    Semasa Mbah Lim masih hidup, Yayuk berujar, santri langsung mempelajari 3K dari perilaku Mbah Lim. Kini, 3K dijabarkan ke dalam tiga mata pelajaran untuk siswa MA Alpansa. Pertama, pemahaman dasar sejarah Mbah Lim untuk kelas X. Kedua, materi wawasan kebangsaan untuk kelas IX. Ketiga, pelajaran pedagogik (seni menjadi guru) untuk siswa Kelas XII.

    “Berbekal ilmu dan pedagogik, santri bisa mencuci otak masyarakat dengan wawasan kebangsaan dan Pancasila. Dengan demikian mereka lahir sebagai kader penangkal paham garis keras yang berupaya merongrong keutuhan NKRI dari tingkat paling bawah (desa),” demikian Yayuk.

    DINDA LEO LISTY


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.