Gaya Hidup Sehat Bebas Kolesterol

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kadar kolesterol tinggi menjadi faktor utama risiko penyakit jantung koroner. Menerapkan pola makan sehat sangat disarankan.

    Kadar kolesterol tinggi menjadi faktor utama risiko penyakit jantung koroner. Menerapkan pola makan sehat sangat disarankan.

    INFO NASIONAL - Sampai saat ini, penyakit jantung masih menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia. Tahun 2015, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, angka kematian akibat penyakit jantung dan pembuluh darah meningkat menjadi 20 juta jiwa. Angka tersebut diperkirakan melonjak hingga 23,6 juta jiwa pada 2030. Di Indonesia, menurut catatan WHO pada 2011, penyakit kardiovaskuler, khususnya penyakit jantung koroner, menyebabkan angka kematian yang cukup tinggi, yakni 26 persen.

    Ahli jantung Rumah Sakit Siloam Simatupang, dr Emanoel Oepangat, mengatakan kadar kolesterol yang berlebihan dalam darah dapat menyebabkan penimbunan dan penyempitan pembuluh darah yang memicu penyakit kardiovaskuler, seperti penyakit jantung koroner, gagal jantung, hipertensi, dan stroke.

    “Kadar kolesterol tinggi adalah faktor utama risiko penyakit jantung koroner,” katanya dalam diskusi Ngobrol @Tempo bertajuk “Gaya Hidup Sehat, Gaya Hidup Bebas Kolesterol dan Penyakit Jantung”, di Auditorium Rumah Sakit Siloam Simatupang, Sabtu, 1 April 2017. Acara yang dipandu moderator S. Dian Andryanto, Redaktur Tempo.co, ini terselenggara atas kerja sama Tempo Media Group dan Rumah Sakit Siloam Simatupang, serta didukung Quaker Oats dan Confidence.

    Menurut Noel, sapaan akrab Emanoel, kolesterol dibutuhkan tubuh untuk membentuk membran sel dan hormon di mana 70 persen proses produksinya berasal dari dalam tubuh, yaitu oleh hati, dan 30 persennya berasal dari luar tubuh, yakni melalui makanan yang dikonsumsi sehari-hari. “Kolesterol perlu bagi tubuh, tapi jumlahnya harus tetap terkontrol,” ujarnya.

    Karena itu, Noel menyarankan masyarakat rutin melakukan cek kadar profil lipoprotein setiap 6 bulan sekali. Sebab, jika low-density lipoprotein (LDL) terlalu banyak bersirkulasi di dalam darah, bisa menyebabkan penimbunan dalam dinding pembuluh darah. Sebaliknya, jika kadar high-density lipoprotein (HDL) semakin tinggi, semakin rendah kemungkinan terkena serangan jantung. “Tiap orang harus tahu kadar kolesterol dalam tubuhnya, apakah termasuk yang berisiko rendah, sedang, tinggi, atau sangat tinggi terkena penyakit jantung koroner,” katanya. Selain itu, Noel menyarankan setiap orang rutin berolahraga, seperti berenang atau naik sepeda, berhenti merokok, dan memperhatikan pola makan sehat untuk mencegah terjadinya penyakit jantung.

    Ketua Umum Persatuan Ahli Gizi dan Pangan Prof Hardinsyah menyarankan mengkonsumsi buah, sayur, serealia, dan kacang-kacangan yang kaya serat, serta ikan atau pangan yang kaya omega-3 untuk menurunkan kolesterol. “Makan tempe tanpa menggunakan tepung adalah salah satu cara menurunkan kolesterol,” ucapnya.

    Selain itu, mengutip hasil penelitian, Hardinsyah menuturkan, makan sayur 400 gram setiap hari atau setara 3 mangkuk sayur dapat mengurangi 18 persen terkena risiko penyakit jantung koroner. Sedangkan mengonsumsi 3 gram serat larut air, oat, menurunkan 8-23 persen kolesterol dan mengendalikan gula darah dalam tubuh.

    Di sisi lain, supaya kadar kolesterol di dalam tubuh tidak berlebihan, Hardinsyah memberi saran untuk membatasi konsumsi pangan tinggi lemak dan kolesterol, seperti otak sapi yang mengandung 2.300 miligram kolesterol/100 gram atau kuning telur, yang di dalamnya terdapat 1.234 miligram kolesterol/100 gram.

    TIM INFO TEMPO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Rencana Pendapatan dari Pajak 2019 BPRD DKI Jakarta

    Badan Pajak dan Retribusi Daerah DKI Jakarta menetapkan target pendapatan dari pajak sebesar Rp 44,18 triliun pada 2019. Berikut rincian target BPRD.