Longsor Nganjuk, Perhutani: Akibat Salah Kelola Hutan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga membantu memasang tanda bahaya di sekitar daerah longsor Dusun Dlopo, Desa Kepel, Kecamatan Ngetos,  Nganjuk, Jawa Timur, 9 April 2017. Longsor daerah pertanian seluas kurang lebih 3 hektar tersebut diduga menelan korban 5 orang. ANTARA/Prasetia Fauzani

    Warga membantu memasang tanda bahaya di sekitar daerah longsor Dusun Dlopo, Desa Kepel, Kecamatan Ngetos, Nganjuk, Jawa Timur, 9 April 2017. Longsor daerah pertanian seluas kurang lebih 3 hektar tersebut diduga menelan korban 5 orang. ANTARA/Prasetia Fauzani

    TEMPO.CO, Nganjuk - Kepala Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan Kediri Maman Rosmantika angkat bicara soal penyebab longsor yang menewaskan lima orang di Nganjuk, Jawa Timur. Selain kerusakan saluran irigasi, pengelolaan kawasan hutan yang salah memicu terjadinya longsor di Gunung Wilis.

    Dari hasil pantauan lokasi longsor di Dusun Dolopo, Desa Kepel, Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk, Maman menyebut kerusakan saluran irigasi di puncak tebing menjadi pemicu bencana. Menurut dia, lokasi longsor berada di luar wilayah Perhutani berjarak empat kilometer. “Longsor ada di kawasan milik warga yang ditanami cengkeh dan persawahan,” kata Maman ditemui di ruang kerjanya, Selasa 11 April 2017.

    Baca : 4 Korban Longsor Nganjuk Tertimbun Saat Selfie

    Menurut dia, konstruksi tebing terdiri atas tiga bagian, yakni bagian puncak terdapat saluran air menuju permukiman. Di bawahnya membentang saluran irigasi untuk mengairi areal penanaman warga di atas tebing. Sedangkan di bagian dasar tebing yang terhubung langsung dengan sungai juga dikelola menjadi areal sawah.

    Retakan yang terjadi di saluran irigasi beberapa waktu sebelum longsor membuat air meresap ke dalam tanah. Perlahan-lahan air ini mengikis lapisan tanah, yang menurut Maman, memiliki ikatan molekul tanah renggang. Kondisi ini diperparah dengan pembukaan sawah di dasar tebing yang merongrong kekuatan lapisan tanah bawah. “Sehingga ketika intensitas hujan tinggi, air yang meresap ke dalam tanah berlipat dan mengikis hingga terjadi longsor,” kata Maman.

    Meski berada di luar wilayah hutan, kawasan tersebut tergolong hijau. Hanya saja faktor varietas tanaman yang kurang mampu mencengkeram tanah akibat peladangan warga dan kurangnya tanaman keras memicu longsor di kawasan itu.

    Di wilayah Perhutani KPH Kediri yang meliputi Kabupaten Trenggalek, Tulungagung, Kabupaten Kediri, Kota Kediri, Nganjuk, dan Jombang seluas 117.000 hektare, terdapat sejumlah kawasan rawan retak yang berbatasan langsung dengan lahan warga. Mereka berada di Desa Prambon, Kecamatan Tugu, Desa Nglinggis, Kecamatan Tugu, Desa Depok, Kecamatan Bendungan, dan Desa Parakan, Kecamatan Trenggalek, Kabupaten Trenggalek. Selain itu sebagian kawasan Kecamatan Pagerwojo, Kabupaten Tulungagung juga memiliki potensi kerawanan retakan di lereng Gunung Wilis.

    Simak: Longsor Nganjuk, Setiap Korban Dapat Santunan Total Rp 25 Juta

    Faktor lain pemicu longsor di wilayahnya, menurut Maman, adalah kesalahan pengelolaan hutan oleh masyarakat. Selama ini warga cenderung menanam tanaman pertanian seperti jagung di daerah miring yang kurang memiliki kedalaman akar. “Akan lebih aman menanam kopi di daerah seperti itu,” kata Maman.

    Hanya saja edukasi kepada warga untuk beralih komoditas pangan ini tak semudah membalik telapak tangan. Masyarakat yang terbiasa menikmati panen jagung dalam waktu cepat harus rela menunggu hingga satu setengah tahun untuk memanen kopi meski hasilnya lebih tinggi. Dia berharap pemerintah daerah mampu menata ulang pengelolaan kawasan hutan agar tak terjadi bencana longsor.

    HARI TRI WASONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Anwar Usman dan 8 Hakim Sidang MK dalam Gugatan Kubu Prabowo

    Mahkamah Konstitusi telah menunjuk Anwar Usman beserta 8 orang hakim untuk menangani sengketa pemilihan presiden 2019.