Teror Stockholm, Kemlu: Tak Ada Korban WNI

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mobil derek menarik sebuah truk yang ringsek usai menabrak sebuah department store Ahlens di pusat kota Stockholm, Swedia, 8 April 2017. Diketahui, truk tersebut telah dibajak dan ditabrakan dengan sengaja oleh pelaku ke pusat keramaian orang. REUTERS

    Mobil derek menarik sebuah truk yang ringsek usai menabrak sebuah department store Ahlens di pusat kota Stockholm, Swedia, 8 April 2017. Diketahui, truk tersebut telah dibajak dan ditabrakan dengan sengaja oleh pelaku ke pusat keramaian orang. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir memastikan pihaknya terus mengikuti perkembangan situasi pasca teror yang terjadi di Drottninsggatan, Stockholm, Swedia. Menurut dia, tak ada warga negara Indonesia di antara korban tabrak sebuah truk yang diarahkan membabi buta ke kawasan tersebut, Jumat 7 April 2017 waktu setempat.

    "Sampai saat ini tidak ada informasi mengenai WNI yang menjadi korban," kata Arrmanatha saat dimintai konfirmasi oleh Tempo, Sabtu, 8 April 2017.

    Arrmanatha memastikan pihaknya terus memantau perkembangan situasi pasca insiden yang terjadi pada pukul 13.53 waktu setempat, Jumat kemarin itu.

    Petugas kepolisian mensterilkan lokasi kejadian hingga radius 1,5 km. Kedutaan Besar RI di Stockholm pun mengimbau WNI yang berada di Swedia, khususnya Stockholm untuk menghindari pusat perkotaan.

    “Kami masih memantau apakah ada WNI yang menjadi korban dari aksi serangan tersebut,” ujar Duta Besar KBRI Stockholm, Bagas Hapsoro.

    KBRI pun menyediakan layanan informasi bagi WNI, sebagai sarana memantau perkembangan situasi. Informasi dapat diperoleh dengan menghubungi Hotline KBRI : +46 8 545 55 880 atau +46 700 246 843, atau memantau perkembangan melalui website KBRI stockholm.kemlu.go.id, email:stockholm.kbri@kemlu.go.id.

    YOHANES PASKALIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.