Haikal Peretas 4.600 Situs, Pengamat:Jadi Hacker Tak Perlu Jenius

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi hacker. Venturebeat.com

    Ilustrasi hacker. Venturebeat.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Ahli digital forensik, Ruby Alamsyah, mengatakan keberadaan peretas atau hacker saat sekarang dan masa lalu berbeda. Pada tahun 1980-an hingga awal 1990-an, kata dia, orang yang menjadi hacker adalah orang-orang yang sangat jenius karena saat itu teknologi masih terbatas dan internet belum luas seperti sekarang.

    "Akhir tahun 1990-an sampai sekarang, untuk jadi hacker tidak perlu jenius-jenius dan jago IT," kata Ruby saat dihubungi Tempo, Jumat, 7 April 2017.

    Baca : Kawanan Haikal Peretas Ribuan Situs, Siapa Gantengers Crew Ini?

    Ruby menjelaskan, hacker bisa lahir dari orang yang memiliki passion itu, punya banyak waktu, ditunjang dengan pengetahuan di internet, dan berlatih. Ketika mereka mencoba-coba tools yang tersedia di jaringan internet itu, dalam hitungan hari bisa menjadi hacker.

    Dalam kasus dugaan peretasan yang diduga dilakukan Sultan Haikal, 19 tahun, Ruby mengatakan cara membobol yang dilakukan Haikal dan teman-temannya termasuk mudah. Hacking-hacking yang disebut secara luas ini, kata dia, belum tentu adalah hacking tingkat tinggi. "Pembobolan ini bukan sesuatu teknik yang rumit dan sulit,"

    Simak : Begini Cara Sultan Haikal Merekrut Para Pembobol Ribuan Situs

    Menurut Ruby, sebenarnya banyak yang berbakat untuk membobol komputer atau jaringan. "Menurut saya karena yang muda-muda ini tidak memikirkan risiko dan masalah hukum yang bisa menjerat mereka. Hukum dilabrak saja, ahirnya ditangkap," ujar Ruby.

    REZKY ALVIONITASARI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sidang MK, Tudingan Kubu Prabowo - Sandiaga soal Pilpres 2019

    Pada 16 Juni 2019, Tim kuasa hukum Prabowo - Sandiaga menyatakan mempersiapkan dokumen dan alat bukti soal sengketa Pilpres 2019 ke Sidang MK.