Banjir Landa 4 Kelurahan di Samarinda, 10.000 Rumah Terendam  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pengendara sepeda motor mendorong kendaraannya saat  banjir di Samarinda (16/1).  TEMPO/Firman Hidayat

    Seorang pengendara sepeda motor mendorong kendaraannya saat banjir di Samarinda (16/1). TEMPO/Firman Hidayat

    TEMPO.CO, Samarinda – Banjir dengan ketinggian 30-170 sentimeter melanda empat kelurahan di Kota Samarinda, yang menyebabkan hampir 10 ribu rumah terendam.

    “Lokasi banjir di empat kelurahan, yaitu Kelurahan Gunung Lingai, Kelurahan Sempaja Timur, Kelurahan Temindung Permai, dan Kelurahan Lok Bahu,” kata anggota Tim Reaksi Cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda, Nanang Arifin, kepada Tempo, Jumat, 7 April 2017.

    Banjir terparah terjadi di Perumahan Griya Mukti, yang masuk Kelurahan Gunung Lingai, dan Perumahan Bengkuring di Kelurahan Sempaja Timur.

    Baca: Banjir Rendam 4 Dusun di Kukar, Aktivitas Warga Lumpuh

    Hingga Jumat siang, BPBD Samarinda bersama sejumlah relawan peduli bencana terus berupaya mengevakuasi warga dan barang-barang miliknya. Meski sudah diimbau untuk mengungsi, tak sedikit warga yang tetap memilih bertahan di rumah masing-masing.

    “Masyarakat sudah kita imbau untuk mengungsi sementara waktu. Tapi warga tetap bertahan meski ada juga yang sudah mengungsi,” kata Nanang.

    Imbauan agar warga mengungsi bukan tanpa alasan. Menurut data yang diperoleh Nanang dari instansi terkait, curah hujan di Samarinda masih tergolong ekstrem untuk beberapa hari mendatang.

    “Masyarakat harus waspada, informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pekan depan curah hujan masih ekstrem,” kata Nanang.

    Nanang memaparkan, saat ini bantuan yang paling dibutuhkan oleh warga adalah makanan siap saji. Kendati demikian, bantuan diakui telah banyak berdatangan. Warga sekitar yang tak terkena banjir juga turut membantu membangun dapur umum untuk menyiapkan konsumsi bagi para korban banjir.

    “Selain dari BPBD, yang terus bergerak membantu proses evakuasi dan menyebar logistik, warga sekitar juga bergotong-royong saling membantu,” kata Nanang.

    Adapun Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang tak memungkiri banjir kali ini merupakan yang terparah sejak 2008.

    Simak pula: Zakir Naik Ceramah di Makassar, Panitia Siapkan 3.500 Kursi

    “Ini yang parah kalau kita bandingkan dengan tahun 2008. Saya juga keliling sampai ke Tanah Merah, sampai ke Benanga yang statusnya siaga 3,” kata Jaang, saat ditemui wartawan di lokasi Banjir, Jumat, 7 April 2017.

    Jaang berharap air Sungai Mahakam, yang saat ini sedang pasang, tidak meluap. Politikus asal partai Demokrat tersebut menegaskan telah memberikan arahan kepada jajarannya untuk mengatasi persoalan banjir di Samarinda. “Perlu saya sampaikan ke masyarakat, prediksi BMKG, curah hujan dalam skala nasional memang musim hujan. Mudah-mudahan air Sungai Mahakam tidak meluap,” tuturnya.

    SAPRI MAULANA



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.