Kapal dari Toli-toli ke Berau Sudah 6 Hari Belum Sampai, Hilang?  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tim SAR gabungan melakukan pencarian menggunakan kapal Basarnas RB 210 di Perairan Teluk Bone, Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara, 22 Desember 2015. Total korban yang ditemukan saat ini berjumlah 44 orang dari 118 penumpang. Basarnas mencatat tiga penumpang telah tewas. ANTARA/Sahrul Manda Tikupadang

    Tim SAR gabungan melakukan pencarian menggunakan kapal Basarnas RB 210 di Perairan Teluk Bone, Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara, 22 Desember 2015. Total korban yang ditemukan saat ini berjumlah 44 orang dari 118 penumpang. Basarnas mencatat tiga penumpang telah tewas. ANTARA/Sahrul Manda Tikupadang

    TEMPO.CO, Samarinda - Kapal motor (KM) Sabina yang berlayar dari Toli-toli menuju Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, hingga hari keenam sejak keberangkatan belum juga tiba. Mesin KM Sabina diduga mati, sehingga kapal terombang-ambing di sekitar perairan Tanjung Mangkalihat yang diketahui banyak titik segitiga bermuda.

    "Dugaan sementara mesin kapal mati, jumlah POB (passenger on board) sekitar sembilan orang," kata Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas) Balikpapan yang menaungi wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara kepada Tempo, di Batu Dinding, lokasi pelatihan SAR, Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Kamis, 6 April 2017.

    Baca juga:
    Kapal Habis Bahan Bakar di Tengah Laut, 180 Orang Selamat

    Idealnya, KM Sabina sudah tiba di Berau paling lambat Ahad, 3 April lalu. Informasi awal hilangnya kapal diketahui Basarnas dari Pol Airud Berau yang menerima laporan dari salah satu penumpang KM Sabina pada 3 April lalu. "Hari ini yang keempat dan proses pencarian (lokasinya) akan lebih luas," kata Muji.

    Karena lokasi terakhir kapal terdeteksi di Selat Makassar ALKI II, tepatnya perairan Tanjung Mangkalihat, maka ada tiga kantor SAR yang bertanggung jawab untuk melakukan pencarian, yakni SAR Palu, Toli-toli, dan termasuk SAR Balikpapan. "Kami berkoordinasi dengan SAR Palu yang radiusnya lebih dekat untuk melaksanakan tindakan," kata Muji.

    Perairan Tanjung Mangkalihat memang dikenal berbahaya, karena terdapat sejumlah pusaran air atau yang biasa disebut segitiga bermuda. "Di antara Tanjung Mangkalihat itu ada pusaran air, segitiga bermuda. Jarang ketemu kejadian di sana dan punya tingkat kedalaman," kata Muji.

    Tim SAR yang berangkat ke lokasi kejadian juga lebih berhati-hati. Standar kapal yang digunakan jenis rescue board yang panjangnya sekitar 40 meter. Saat ini, ada dua kapal agen—pemilik KM Sabina—yang diberangkatkan ke lokasi kejadian untuk memastikan keberadaan kapal. "Dari pos SAR Sangatta Kutai Timur kami kirim enam orang yang berangkat tadi pagi," kata Muji.

    Di sekitar perairan itu juga terdapat Pulau Tanjung Mangkalihat. Tidak menutup kemungkinan KM Sabina bersandar di pulau tersebut. "Untuk kepastian kondisi kapal di mana dan seperti apa, kami masih menunggu laporan dari tim yang saat ini masih dalam perjalanan menuju LKP (lokasi kejadian perkara) untuk melakukan pencarian," kata Muji.

    SAPRI MAULANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menunggu Dobrakan Ahok di Pertamina

    Basuki Tjahaja Purnama akan menempati posisi strategis di Pertamina. Ahok diperkirakan akan menghadapi banyak masalah yang di BUMN itu.