Kenapa Evakuasi Longsor Ponorogo Lebih Sulit dari Banjarnegara  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Alat berat dikerahkan dalam evakuasi pencarian korban di timbunan material tanah longsor di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Ponorogo, 2 April 2017. TEMPO/Nofika Dian Nugroho

    Alat berat dikerahkan dalam evakuasi pencarian korban di timbunan material tanah longsor di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Ponorogo, 2 April 2017. TEMPO/Nofika Dian Nugroho

    TEMPO.CO, Jakarta -  Badan Nasional Penanggulangan Bencana melaporkan pencarian korban longsor di Dusun Tangkil, Desa Banaran Kecamatan Pulung Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, belum menunjukkan kemajuan karena terkendala medan bencana. Salah satunya tebal tanah longsoran yang melanda area permukiman.

    Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho mengatakan bencana di Ponorogo cenderung memiliki tingkat kesulitan yang kompleks. Itu sebabnya, proses pencarian korban tidak dapat dilakukan secepat bencana longsor di Banjarnegara, Jawa Tengah, yang memiliki tebal tanah longsoran yang lebih tipis dibanding di Ponorogo.

    Baca: BPBD Jawa Timur: Wilayah Longsor Ponorogo Termasuk Rawan Bencana

    Sutopo menuturkan, ketebalan material yang mencapai 50 meter mempersulit evakuasi korban longsor. Ia pun menduga banyak korban terseret aliran longsor. “Ini yang menyebabkan baru tiga orang yang ditemukan, karena luas yang terkena longsor jauh dengan ketebalan mencapai maksimum 50 meter,” ujar Sutopo di Graha BNPB, Jakarta, Selasa, 4 April 2017. Kondisi cuaca yang terus hujan pun membuat tim harus mengakhiri evakuasi pukul 14.30.

    Petugas gabungan dari sejumlah instansi berhasil mengangkat satu jenazaah yang tertimbun bangunan rumah akibat bencana tanah longsor di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, 2 April 2017. TEMPO/Nofika Dian Nugroho

    Sutopo menjelaskan, daerah terdampak longsor mencapai 12,2 hektare. Landasan longsoran mencapai 1,1 kilometer dengan volume mencapai 2 juta meter kubik longsoran. Sebanyak 28 orang hilang tertimbun longsor. Tiga orang tewas yang ditemukan adalah Katemi (70 tahun), Iwan Danang Suwandi (30 tahun), dan Sunadi (47 tahun), yang beralamat di Dusun Tangkil. Ketiganya sudah dimakamkan. Sedangkan 25 orang masih hilang tertimbun.

    Faktor cuaca adalah kendala lainnya. Lokasi bencana, kata dia, saat ini sering dilanda hujan sehingga proses pencarian korban harus dihentikan saat hujan turun. Belum lagi, waktu pencarian hanya bisa dilakukan saat hari terang. Korban hilang diperkirakan terseret dan tertimbun arus longsor.

    Baca: BNPB Peringatkan Potensi Longsor Susulan di Ponorogo

    Sutopo melanjutkan, alat-alat berat sudah didatangkan guna mempermudah proses pencarian korban. Kendati demikian, beratnya medan membuat proses penemuan tergolong lambat. Meski begitu, tim penyelamat tidak menyerah dalam proses pencarian korban. "Saat hujan deras, tidak mungkin melanjutkan aktivitas SAR. Alat berat dikerahkan. Ada kemungkinan korban terseret arus," kata dia.
    Ekspresi keluarga korban saat menyaksikan tim SAR gabungan mencari korban yang tertimbun longsor di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Ponorogo, Jawa Timur, 3 April 2017. ANTARA/Zabur Karuru
    Untuk proses evakuasi, Sutopo menyatakan 1.640 personel tim SAR gabungan melakukan pencarian dan penyelamatan korban. Personel terdiri atas 200 personel TNI, 200 personel polisi, 45 anggota Basarnas 45, 100 anggota BPBD, 100 Tagana, juga tim dari Pemerintah Kabupaten Ponorogo, tim kesehatan, relawan, dan Perhutani.

    Baca: Daftar 28 Nama Korban yang Tertimbun Tanah Longsor di Ponorogo

    Adapun Tim kaji cepat Universitas Gajah Mada (UGM) menyatakan ada 4 faktor penyebab longsor di Desa Banaran, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, pada Sabtu 1 April 2017. "Penyebab longsor di Ponorogo ini memang cukup kompleks," kata anggota tim kaji cepat UGM Bagus Bestari Kamarulah di Ponorogo, Selasa 4 April 2017.

    Empat faktor itu, pertama, kemiringan tebing yang mencapai 60 derajat menimbulkan risiko pergerseran tanah tinggi. Kedua, struktur tanah dan batuan yang longsor merupakan hasil pelapukan dari gunung berapi. "Jenis batuan itu memiliki sifat lepas-lepas, sehingga sangat rawan sekali terjadi longsor," kata Bagus.

    Bagus menambahkan, dari pengamatan tim kaji cepat UGM bersama tim peneliti dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), ditemukan adanya zona lemah sepanjang 1,5 kilometer dari titik nol longsor hingga ke sisi selatan.

    Baca: Longsor Ponorogo, Cerita Pilu Ibu Muda Kehilangan 8 Anggota Keluarga

    Ketiga, kondisi tata guna lahan yang ada di lereng perbukitan juga cukup memprihatinkan. Sebab, kata Bagus, banyak dijumpai tanaman yang tidak layak berada di kawasan lereng. Tanaman yang tumbuh di sekitar lereng lokasi longsor ini adalah tanaman jahe yang banyak dibudidayakan oleh warga desa. "Kemudian ada juga bambu. Jenis-jenis itu tidak cocok di tebing, harusnya di bawah tebing," kata Bagus.
    Warga melihat mobil yang tertimbun reruntuhan rumah akibat bencana longsor di Desa Banaran, Pulung, Ponorogo, Jawa Timur, 1 April 2017. Longsor ini menyebabkan tiga warga luka berat dan puluhan lainnya luka ringan. ANTARA/Siswowidodo
    Keempat, Bagus melanjutkan, pemicu longsor besar di Banaran adalah tingginya curah hujan yang ada di sekitar kawasan lokasi bencana.Hujan bahkan diinformasaikan mengguyur selama tiga hari sebelum kejadian secara terus-menerus dengan intensitas tinggi. Sehari sebelum kejadian itu, hujan turun mulai dari sore hingga tengah malah. "Kondisi itu memicu terjadinya serapan air dalam tanah cukup tinggi, sehingga tanah dalam kondisi jenuh air," ujarnya.

    Tim kaji cepat juga mengadakan kajian terhadap potensi longsor susulan dari tebing yang ada di kanan-kiri lokasi bencana saat ini. Longsor di Dusun Tangkil, Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo terjadi pada Sabtu 1 April 2017 pagi sekitar pukul 08.00 WIB. Akibatnya, 35 rumah dan 28 warga yang sedang berladang memanen jahe dan sebagian masih di rumah masing-masing tertimbun material longsor.

    Baca: Longsor Ponorogo, Begini Warga Trauma dan Ingin Relokasi

    Proses pencarian korban yang tertimbun tanah longsor di Dusun Tangkil terkendala tebalnya timbunan material longsor. Karena itu, dua pompa air digunakan untuk menyemprot timbunan. "Agar memudahkan teman-teman yang bekerja secara manual menggunakan cangkul dan sekop," kata Kepala Operasi Basarnas Pos SAR Trenggalek, Yoni Fariza, Senin, 3 April 2017.
    Tim SAR gabungan mengangkat motor milik korban yang tertimbun longsor di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Ponorogo, Jawa Timur, 3 April 2017. Upaya pencarian korban banyak terganggu oleh hujan yang masih sering turun di lokasi longsor. ANTARA/Zabur Karuru

    Penyemprotan air itu berlangsung di sektor A, yakni berada tepat di bawah bukit yang amblas. Timbunan tanah pada titik itu paling tebal dibandingkan sektor B dan C yang lebih jauh dari bukit di lereng Pegunungan Wilis tersebut. Tanah longsor menutupi lahan warga dengan panjang sekitar 2 kilometer dan lebar 7 meter. Ketebalannya berkisar antara 4 hingga 20 meter. Sedangkan volumenya diperkirakan mencapai 80 ribu meter kubik. Timbunan tanah itu merusak 28 rumah warga.

    ARKHELAUS | NOFIKA DIAN NUGROHO | ANTARA


    Baca: 4 Desa Terdampak Longsor Ponorogo Kesulitan Air Bersih

    Video Terkait:
    Tiga Korban Longsor Ponorogo, Tim SAR Terus Melakukan Pencarian
    Longsor Hancurkan Rumah Sopir, 2 Anaknya Terluka, Satu Meninggal


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.