Cegah Longsor Ponorogo Terulang, BPBD Jawa Timur Usulkan 2 Hal Ini  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Alat berat dikerahkan dalam evakuasi pencarian korban di timbunan material tanah longsor di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Ponorogo, 2 April 2017. TEMPO/Nofika Dian Nugroho

    Alat berat dikerahkan dalam evakuasi pencarian korban di timbunan material tanah longsor di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Ponorogo, 2 April 2017. TEMPO/Nofika Dian Nugroho

    TEMPO.CO, Surabaya - Kepala Bidang Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur Yanuar Rachmadi mengatakan akan mengosongkan lahan di area bukit yang terdampak longsor. Hal tersebut merupakan bagian dari program jangka pendek dalam penanganan bencana longsor Ponorogo.

    Menurut dia, program jangka pendek tersebut dilakukan dengan merelokasi warga ke tempat yang lebih aman. “Karena kami tidak mau ambil risiko,” ucap Yanuar saat dihubungi Tempo, Selasa, 4 April 2017.

    Baca: BPBD Jawa Timur: Wilayah Longsor Ponorogo Termasuk Rawan Bencana

    Yanuar berujar, pengosongan area tersebut bertujuan mengamankan warga apabila sewaktu-waktu terjadi bencana longsor susulan. Menurut dia, hal itu penting dilakukan agar keselamatan warga terdampak longsor aman. Saat ini, tutur Yanuar, pihaknya akan lebih berfokus pada relokasi warga yang selamat dari bencana longsor. Sebabnya, Pemerintah Provinsi Jawa Timur akan segera membangun rumah sementara untuk para pengungsi korban bencana longsor Ponorogo.

    “Jadi diselamatkan dulu warganya, enggak nunggu ada longsor lagi baru dipindahkan,” ucap Yanuar.

    Ketika disinggung tentang rencana rehabilitasi lingkungan, Yanuar mengatakan hal itu akan menjadi program jangka panjang. Menurut dia, struktur tanah di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo, tersebut kurang bagus dan rawan longsor. Sebabnya, harus ada penanaman pohon yang sifatnya dapat menguatkan struktur tanah.

    “Tapi, kalaupun menanam, butuh proses dan hasilnya enggak bisa langsung. Karena itu, kami berfokus pada penyelamatan warga dulu,” ujarnya.

    Baca: Longsor Ponorogo, 14 Rumah Darurat Siap Dibangun

    Yanuar mengatakan penanaman pohon seperti itu setidaknya baru bisa membuahkan hasil dalam rentang 10-15 tahun. Sementara itu, karena struktur tanah yang kurang bagus, dia mengaku tidak bisa memastikan akan ada longsor lagi atau tidak. “Yang pasti, rehabilitasi orangnya dulu, baru rehabilitasi lingkungannya, biar aman,” tutur Yanuar.

    Adapun Pemerintah Provinsi Jawa Timur mempertimbangkan merelokasi warga korban longsor di Desa Banaran. Gubernur Jawa Timur Soekarwo mengatakan, apabila opsi itu diambil, Pemprov Jawa Timur akan membangun rumah sementara untuk para pengungsi korban bencana longsor Ponorogo. Untuk relokasi tersebut, Pemprov akan bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Ponorogo, TNI Angkatan Darat, dan kepolisian.

    “Pemprov akan menanggung bangunannya, sedangkan Bupati Ponorogo akan menanggung terkait dengan tanahnya,” ucap Soekarwo di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Senin, 3 April 2017.

    Baca: Longsor Ponorogo, Begini Warga Trauma dan Ingin Relokasi

    Soekarwo berujar, kajian relokasi warga akan melibatkan ahli geologi dari Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta, dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, untuk memetakan wilayah yang aman bagi pengungsi. Selain itu, tutur dia, pemetaan ini dilakukan agar warga yang tinggal di daerah rawan tersebut bisa segera direlokasi ke tempat yang lebih aman.

    “Untuk relokasi, kerja sama ini dilakukan dengan tujuan menentukan kategori tanah yang aman untuk pengungsi itu seperti apa, agar ke depan tidak terulang lagi bencana yang sama,” kata Soekarwo.

    JAYANTARA MAHAYU

    Video Terkait:
    Tiga Korban Longsor Ponorogo, Tim SAR Terus Melakukan Pencarian
    Longsor Hancurkan Rumah Sopir, 2 Anaknya Terluka, Satu Meninggal


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kecelakaan Tol Cipali Dipicu Bus yang Supirnya Diserang Penumpang

    Kecelakanan Tol Cipali melibatkan empat kendaraan beruntun di kilometer 150, Senin dinihari, 17 Juni 2019 dipicu serangan penumpang pada supir.