Zakir Naik di UMY Usung Tema Agama Sebagai Agen Perdamaian

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dr. Zakir Naik, dai asal India, disambut Ketua MPR RI serta melayani pertanyaan wartawan di Gedung Nusantara III, DPR RI, Jakarta, 31 Maret 2017. TEMPO/Aghniadi

    Dr. Zakir Naik, dai asal India, disambut Ketua MPR RI serta melayani pertanyaan wartawan di Gedung Nusantara III, DPR RI, Jakarta, 31 Maret 2017. TEMPO/Aghniadi

    TEMPO.CO, Jakarta - Setelah Ahad kemarin, 2 April 2017, pendakwah asal India Zakir Naik menyampaikan ceramah perdananya dalam rangkaian kunjungannya di Indonesia, bertempat Universitas Pasundan Indonesia (UPI) di Bandung, petang harinya Zakir Naik langsung menuju Yogyakarta untuk hari ini, Senin 3 April 2017, menyampaikan kuliah umum di UMY.

    Ketika di Bandung, Zakir Naik membawakan materi ceramah berjudul Da'wah or Destruction maka di Yogyakarta, Zakir Naik akan mengisi kuliah umum dengan tema Religion as an Agent of Mercy and Peace di hadapan tak kurang dari 6.000 peserta di UMY dalam rangkaian Zakir Naik Visit Indonesia 2017.

    Baca juga:

    Live Ceramah Zakir Naik di UMY Bisa Disaksikan di TV Muhammadiyah

    Dalam ceramah perdananya di Bandung,  Staf Hubungan Masyarakat Perkumpulan Zakir Naik Visit Indonesia, Budi Setiawan, mengatakan Zakir Naik dan panitia acara di Indonesia tidak mengadakan debat. Di luar forum, Zakir siap melayani debat secara langsung. “Ini dakwah ilmiah. Jangan dibayangkan dia akan melakukan debat. Dialog antar-umat agama bukan bentuk intoleransi,” ujarnya.

    Dan itu dibuktikan dengan tampilan Zakir Naik melayani berbagai pertanyaan mendasar yang tengah menjadi isu hangat di Tanah Air. Salah satunya dari hadirin bernama Sofi, 35 tahun, dari Jakarta. Sebuah topik pertanyaannya tentang calon kepala daerah non-muslim yang melakukan tugasnya dengan baik bahkanmembangun rumah ibadah untuk muslim.

    Baca juga:

    Ceramah Zakir Naik di UMY Dihadiri Lintas Agama dan Ragam Bangsa

    Zakir menilai pertanyaan itu bagus dan relevan. "Dia membangun tempat ibadah untuk muslim tapi tidak salat. Itu munafik (hipokrit)," ujar Zakir. "Seorang muslim seharusnya tidak memilih non-muslim walau dia telah bekerja dengan baik," katanya.

    Merujuk pada Al-Quran, kata Zakir, kesuksesan seseorang bukan dari hasil kemampuannya membangun gedung-gedung atau jalan. "Sukses sebenarnya adalah iman, keyakinan. Apakah dia beriman?" kata Zakir. "Dia beriman dengan agamanya sendiri," kata Sofi. "Iman adalah percaya kepada Allah dan Al-Quran," ujar Zakir.

    Dan, di UMY hari ini, dengan mengusung tema Religion as an Agent of Mercy and Peace, Zakir Naik tentunya bakal menyampaikan makna beragama sebagai agen pengampunan dan perdamaian.

    S. DIAN ANDRYANTI   I  ANWAR SISWADI  I PITO AGUSTIN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pro Kontra Kemendikbud Menerapkan Zonasi Sekolah pada PPDB 2019

    Zonasi sekolah di PPDB yang diterapkan Kemendikbud memicu pro dan kontra. Banyak orang tua menganggap sistem ini tak adil dan merugikan calon siswa