Ditanya Jemaah Soal Pemimpin Non-Muslim, Ini Jawaban Zakir Naik

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aksi Ulama asal India, Zakir Naik saat memberi ceramah terbuka di hadapan ribuan masyarakat di kampus UPI, Bandung, Jawa Barat, 2 April 2017. TEMPO/Prima Mulia

    Aksi Ulama asal India, Zakir Naik saat memberi ceramah terbuka di hadapan ribuan masyarakat di kampus UPI, Bandung, Jawa Barat, 2 April 2017. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Jakarta - Penceramah asal India, Zakir Naik, mendapat lontaran pertanyaan dari sejumlah hadirin di acara Zakir Naik Visit Indonesia 2017 di gedung Gymnasium Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Ahad, 2 April 2017. Salah satunya dari hadirin bernama Sofi, 35 tahun, dari Jakarta. Sebuah topik pertanyaannya tentang calon kepala daerah non-muslim.

    Sofi bertanya pada pemilihan kepala daerah, apakah calon non-muslim layak dipilih karena ia telah melakukan hal-hal baik. Misalnya tidak hanya terkait dengan infrastruktur kota, tapi juga jujur. “Dan membangun beberapa rumah ibadah untuk muslim,” katanya.

    Baca: Rais Syuriah NU: Muslim Boleh Pilih Pemimpin Non-Muslim

    Zakir menilai pertanyaan itu bagus dan relevan. “Dia membangun tempat ibadah untuk muslim tapi tidak salat. Itu munafik (hipokrit),” ujar Zakir. “Seorang muslim seharusnya tidak memilih non-muslim walau dia telah bekerja dengan baik,” katanya.

    Merujuk pada Al-Quran, kata Zakir, kesuksesan seseorang bukan dari hasil kemampuannya membangun gedung-gedung atau jalan. “Sukses sebenarnya adalah iman, keyakinan. Apakah dia beriman?” kata Zakir. “Dia beriman dengan agamanya sendiri,” kata Sofi. “Iman adalah percaya kepada Allah dan Al-Quran,” ujar Zakir.

    Baca: Ceramah di Lima Kota, Zakir Naik Undang Non-Muslim

    Dia juga mengatakan, makna kata aulia dalam Al-Quran, tidak secara spesifik mengacu pada arti pemimpin semata. “Banyak yang salah paham. Tidak spesifik pemimpin tapi (pemimpin) bagian dari makna aulia,” katanya.

    Ceramah bertajuk Zakir Naik Visit Indonesia 2017 akan menyambangi sejumlah kota di Indonesia. Setelah Bandung, selanjutnya Yogyakarta, Ponorogo, Bekasi, dan Makassar.

    ANWAR SISWADI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Uji Praktik SIM dengan Sistem Elekronik atau e-Drives

    Ditlantas Polda Metro Jaya menerapkan uji praktik SIM dengan sistem baru, yaitu electronic driving test system atau disebut juga e-Drives.