Ahli Bahasa Jelaskan Pidato Ahok Soal Surat Al-Maidah  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), terdakwa kasus dugaan penistaan agama,  menjalani sidang lanjutan di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, 14 Maret 2017. Sidang ke-14 ini mendengarkan keterangan tiga orang saksi fakta. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), terdakwa kasus dugaan penistaan agama, menjalani sidang lanjutan di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, 14 Maret 2017. Sidang ke-14 ini mendengarkan keterangan tiga orang saksi fakta. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Ahli bahasa dari Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta, Bambang Kaswanti, mengatakan pidato Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, yang menyinggung surat Al-Maidah ayat 51, tidak memiliki unsur kampanye.

    "Tidak. Dia tidak berkampanye," kata Bambang saat bersaksi dalam persidangan kasus dugaan penodaan agama atas terdakwa Ahok di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Rabu, 29 Maret 2017.

    Baca: Sidang Ahok, Mantan Wakil Ketua Pengadilan Tinggi DKI Jadi Saksi

    Menurut Bambang, tidak ada unsur kampanye karena Ahok berkali-kali mengatakan "Jangan pilih saya" saat berpidato di Kepulauan Seribu pada 27 September 2016 lalu.

    Dalam penelitiannya terhadap kalimat pidato Ahok, Bambang menyebutkan ada 14 kata yang berkaitan dengan pilkada, di antaranya pada kalimat "Jangan pilih saya" dan "Kalau saya tidak terpilih, program jalan terus".

    Menurut Bambang, jumlah kata secara keseluruhan dalam pidato itu sekitar 2.987. Namun yang menyebut "Al-Maidah" dan "dibohongi" hanya muncul satu kali. Sedangkan kata yang paling sering muncul ialah "program" dan "ikan laut". Karena itu, Bambang meyakini konteks pidato Ahok adalah mengenai program budi daya perikanan.

    "Tema besarnya mempromosikan program budi daya kelautan dan hasil bumi. Itu inti yang saya lihat dibicarakan dalam pidato," katanya.

    Baca: Sidang Ahok Ke-16, Majelis Hakim: Sidang sampai Pukul 12 Malam

    Ketua majelis hakim, Dwiarso Budi Santiarto, lantas mempertanyakan seandainya Ahok tidak menyebut surat Al-Maidah, "Apakah ini enggak memungkinkan program disampaikan?"

    Bambang menjelaskan, komunikasi dilakukan secara lisan dan tertulis. Komunikasi yang disampaikan secara lisan tidak bisa mengendalikan kalimat yang diucapkan atau spontan. Sedangkan tulisan masih bisa direvisi sekian kali sebelum diterbitkan.

    Dalam kasus ini, Bambang melihat ucapan Ahok yang menyinggung surat Al-Maidah hanya karena teringat soal pengalaman pilkada. Selain itu, penyebutan surat Al-Maidah tidak sampai satu menit. "Dua second muncul sambil lalu. Ini letupan spontan dalam konteks pidato berapi-api," ujarnya.

    FRISKI RIANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Terobosan Nadiem di Pendidikan, Termasuk Menghapus Ujian Nasional

    Nadiem Makarim mengumumkan empat agenda utama yang dia sebut "Merdeka Belajar". Langkah pertama Nadiem adalah rencana menghapus ujian nasional.