Di Bojonegoro, Naik Haji Harus Tunggu 24 Tahun

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Kakbah/Masjidil Haram/Ibadah Haji. AP

    Ilustrasi Kakbah/Masjidil Haram/Ibadah Haji. AP

    TEMPO.CO, Bojonegoro -Warga Kabupaten Bojonegoro yang hendak menunaikan ibadah haji  harus bersabar. Pasalnya, hingga akhir Maret 2017, jumlah Calon Jamaah Haji (CHJ) dari Bojonegoro sudah mendekati 28 ribu orang. Untuk ke Tanah Suci, warga Bojonegoro harus mengantre setidaknya 24 tahun lagi.

    Data di Seksi Haji dan Umroh Kantor Kementerian Agama Bojonegoro, angka kenaikan CHJ bisa saja bertambah besar, jika tidak ada pembatasan. Misalnya, pembatasan bagi CHJ minimal 12 tahun, dari sebelumnya dimana ada yang masih balita didaftarkan orangnya sebagai calon jamaah.

    Selain itu, pendaftaran minimal 10 tahun khusus bagi yang sudah pernah naik haji, terhitung mulai Agutus 2015 lalu. “Meski demikian, jumlahnya terus membengkak,” tegas Kepala Seksi Haji dan Umroh Kantor Kementerian Agama di Bojonegoro, Wahid Priyono kepada Tempo, Minggu, 26 Maret 2017.

    Wahid mengatakan, jika dirata-rata, jumlah pendaftar CHJ minimal di atas 40 orang per harinya. Tetapi, jumlah tersebut juga tetap dilakukan seleksi. Misalnya, terkait dengan factor usia, kesehatan dan juga syarat administrasi lainnya. Intinya, calon jamaah, bisa lebih leluasa dan tidak terbebani. Terutama, dengan adanya tawaran dari sejumlah bank-bank, yang menyediakan fasiltas pinjaman ongkos naik haji. ”Kita berharap, jamaah tidak terbebani, maka seleksi ketat,” katanya.

    Yang menarik, CHJ asal Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, didominasi petani. Data Kantor Kementerian Agama Bojonegoro menyebutkan jumlah calon haji yang  berangkat pada 2015 sebanyak 1.157. Dari jumlah itu, sekitar 45 persen di antaranya bekerja sebagai petani. Adapun sisanya dari beragam profesi, mulai pegawai negeri sipil, karyawan badan usaha milik negara, karyawan swasta, hingga pengusaha.

    Pada musim haji  2014, petani juga mendominasi. Dari total 1.112  jamaah, 42 persen di antaranya berasal dari kalangan petani.

    Selain petani, profesi guru juga banyak. Naiknya jumlah guru berhaji para guru ini kemungkinan dari honor sertifikasi, daftar tunggu.”Ya, honor sertifikasi, saya buat daftar,” ujar Farida, 53 tahun, salah satu CHJ asal Kecamatan Kota Bojonegoro.

    SUJATMIKO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hypermarket Giant dan Tiga Retail yang Tutup 2017 - 2019

    Hypermarket Giant akan menutup enam gerainya pada Juli 2019. Selain Giant, berikut gerai ritel yang yang bernasib sama dalam dua tahun terakhir.