Kisah Setya Novanto dari Supir Hingga Jadi Ketua DPR

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua DPR Setya Novanto menyampaikan pidato pada Rapat Paripurna di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, 15 Maret 2017. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Ketua DPR Setya Novanto menyampaikan pidato pada Rapat Paripurna di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, 15 Maret 2017. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Partai Golkar, Setya Novanto, mengisahkan perjalanan kariernya dari seorang supir hingga kini menjabat sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat di hadapan mahasiswa di Sumatera Barat. Dia juga memberikan motivasi pada para mahasiswa agar berani berwirausaha.

    Novanto mengajak mahasiswa memulai bisnis sekecil apapun. Saat dia masih sebagai mahasiswa di Surabaya, Setya rela kuliah sambil bekerja agar mampu membayar uang kost.

    "Saya menjadi supir keluarga di tempat saya tinggal. Saya juga jadi pembantu, membersihkan rumah, dan lainnya," kata Novanto dalam keterangan persnya, Ahad, 26 Maret 2017.

    Tiap pagi sebelum mengantarkan anak-anak majikannya ke sekolah, Novanto juga mengisi waktunya dengan berdagang beras di pasar. "Dari situ saya mulai kumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk keperluan kuliah," kata Novanto.

    Tidak hanya itu, Novanto menuturkan dia pernah menjadi tukang cuci mobil di sebuah dealer. Di tempat inilah dia ke depannya dipercaya menjadi ketua penjualan mobil untuk wilayah Indonesia Timur.

    Mulanya, kata Novanto, pemilik perusahaan terkesan dengan etos kerjanya. Sehingga, suatu hari si pemilik bertanya cara meningkatkan penjualan dan omset perusahaan.

    "Karena saya kuliah mengambil akuntansi, saya sedikit banyak tahu tentang perekonomian. Alhamdulillah, akhirnya saya dipercaya menjadi Ketua penjualan mobil Indonesia bagian timur di perusahaan itu," kata Novanto.

    Dari sinilah karier Novanto terus berkembang menjadi pengusaha nasional hingga menjadi Ketua DPR. "Di hadapan Tuhan, status sosial kita sama. Karena itu, jangan pernah kehilangan kepecayaan diri dan jangan pernah takut melangkah," kata Novanto.

    AHMAD FAIZ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.