Marak Hoax Penculikan Anak, Polisi Bangkalan Keliling Masjid

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang relawan dari Masyarakat Anti Hoax Surabaya menunjukkan langkah-langkah menyikapi berita hoax kepada warga Surabaya yang berada di Taman Bungkul, 8 Januari 2017. TEMPO/Nieke

    Seorang relawan dari Masyarakat Anti Hoax Surabaya menunjukkan langkah-langkah menyikapi berita hoax kepada warga Surabaya yang berada di Taman Bungkul, 8 Januari 2017. TEMPO/Nieke

    TEMPO.CO, Bangkalan --  Selain lewat media sosial, Kepolisian Resor Bangkalan, Jawa Timur, turun lapangan untuk melawan hoax khususnya soal isu penculikan anak. Seluruh perwira Polres mulai dari Kapolres hingga kapolsek di 18 kecamatan serempak ke masjid-masjid, Jumat 24 Maret 2017. Momen ibadah salat jumat dimanfaatkan untuk menyosialisasikan bahwa video-video penculikan yang bertebaran di Facebook dalam sepekan terakhir adalah berita bohong.

    "Saya tegaskan, sampai hari ini gak ada penculikan anak di Bangkalan," kata Kepala Polres Bangkalan, Ajun Komisaris Besar Anisullah M Ridha, di hadapan ratusan jamaah salat jumat di Masjid Agung Bangkalan, Jumat, 24 Maret 2017.

    Baca: Soal Penculikan dan Organ Dijual, Tito: Itu Hoax, Tidak Benar

    Melihat pola penyebaran video penculikan itu, Anis menduga kuat penyebaran video tersebut sudah direncanakan sedemikian rupa. Tujuannya untuk menyerang pemerintah, menciptakan opini publik seolah-olah pemerintah tidak berdaya dan tak bisa berbuat apa-apa.

    Agar masyarakat percaya, kata Anis, para penyebar memasukkan obrolan dalam video itu dengan bahasa daerah. Misalnya akan disebar ke Madura, maka obrolan dalam video pakai bahasa Madura, bila disebarkan ke Aceh pakai bahasa Aceh. Termasuk juga muncul video serupa versi bahasa daerah Papua. "Saya yakin ini setingan, sudah dirancang, adanya obrolan bahasa daerah menunjukkan pelaku niat banget," ujar dia.

    Baca: Hoax di Manado, Orang Tua Khawatir Anak Diculik dari Sekolah

    Selain di masjid, sosialisasi melawan hoax isu penculikan juga dilakukan di bus kota yang melintas di akses Suramadu. Polisi lalulintas dari Satlantas Polres Bangkalan menyetop tiap bus yang lewat. Di dalam bus, polisi memberikan pengarahan kepada penumpang agar tak mempercayai isu penculikan. Polisi juga menyebar selebaran kepada tiap penumpang. "Kalau langsung dengar dari polisi saya percaya, isu itu memang telah membuat resah masyarakat," kata Ahmat Faisal, salah satu penumpang.

    Ahmat yang juga mengajar ngaji di rumahnya merasakan betul dampak isu penculikan itu. Sudah hampir dua hari ini, kata dia, murid-muridnya enggan mengaji. "Bahkan anak saya yang biasanya berangkat sekolah sendiri, sekarang minta diantar jemput," tutur dia.

    Di Bangkalan, salah satu video yang viral adalah video seorang bocah yang terluka pada lehernya. Dalam video ada dubing suara yang menyebut anak itu warga Desa Manoan, Kecamatan Kokop. Padahal setelah ditelusuri, video itu terjadi di India, penyebabnya karena si bocah terjerat tali layangan bukan karena diculik.

    Baca: Gara-gara Hoax Penculik Anak, Gelandangan Dikeroyok di Pantura

    Warga Desa Manoan sempat mendatangi Polres Bangkalan untuk memberitahu bahwa tidak ada penculikan anak di desa mereka. Mereka juga telah mengetahui siapa penyebar video tersebut. Penyebar disebut merupakan warga Kokop namun saat tengah merantau jadi TKI di Arab Saudi.

    MUSTHOFA BISRI

    Simak: Marak Isu Penculikan Anak, Ini Tips Pencegahan dari Komnas PA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menunggu Dobrakan Ahok di Pertamina

    Basuki Tjahaja Purnama akan menempati posisi strategis di Pertamina. Ahok diperkirakan akan menghadapi banyak masalah yang di BUMN itu.