Hoax di Manado, Orang Tua Khawatir Anak Diculik dari Sekolah

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi anti-hoax

    Ilustrasi anti-hoax

    TEMPO.CO, Jakarta - Penduduk Kota Manado, Sulawesi Utara resah karena beredar kabar bohong penculikan dan penjualan organ anak. Keresahan merebak sejak pekan lalu, dipicu pemberitaan media cetak yang memuat ilustrasi organ tubuh anak-anak berikut harganya. Para orang tua ketakutan sehingga melarang anaknya ke sekolah. Kalaupun masuk sekolah, mereka sudah menjemput anak mereka sebelum jam pulang. Para pekerja membawa anak-anak mereka ke tempat kerja.

    "Ya, iyalah kami ketakutan. Baca berita di koran dengan judul besar organ anak-anak bisa Rp5 milliar, siapa yang tidak takut?” kata Maria Paputungan warga asal Kelurahan Malalayang, Manado, Rabu, 22 Maret 2017. Ia khawatir anaknya yang diculik.

    Baca:
    Begini Harusnya Humas Pemerintah Meredam Hoax
    Redam Berita Hoax, Pemerintah Akan Temui Mark ...

    Lantaran takut pula, Yulia Umar, seorang warga yang lain, menjemput anaknya pada jam istirahat sekolah. Menurut Yulia, tak hanya dia, yang melakukan hal itu setelah melihat berita di koran. "Takut sekali pastinya. Biarlah anak saya ikut saya kerja dulu.” Ia bahkan mendatangkan orang tuanya untuk menjaga anak-anaknya yang masih kecil.

    Beberapa warga menduga isu penculikan sengaja dihembuskan untuk mengaburkan persoalan kartu tanda penduduk elektronik atau e-KTP yang menyeret nama Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey. "Hoax penculikan anak ini justru mengaburkan isu utama dari mega korupsi e-KTP,” kata Ady Putong. Sehingga persoalan e-KTP tidak lagi dibicarakan warga. “Apalagi isu penculikan muncul tiba-tiba tanpa ada kejadiannya."

    Baca juga:
    Patmi, Peserta Aksi Dipasung Semen, Sempat Mengeluh Sakit di Dada
    Menteri Pendidikan Turunkan Tim Investigasi Kebocoran Kunci USBN

    Marcellino, penduduk Tomohon sependapat dengan Ady. Indikasinya adalah hilangnya pemberitaan terkait mega korupsi di media lokal yang seharusnya mendapat perhatian khusus lantaran diduga melibatkan Gubernur. "Bahkan Majalah Tempo yang menurunkan laporan Pesta Pora e-KTP menghilang di pasaran,” kata dia.

    Semua penjual Majalah Tempo, kata Marcellino, kehabisan stok barang. “Mereka bilang, saat dapat pasokan, tapi langsung ada yang membeli."

    ISA ANSHAR JUSUF


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.