Diduga Terlibat Penculikan Warga Malaysia, 6 WNI Ditangkap Polisi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi penculikan/penyekapan/kekerasan. Shutterstock

    Ilustrasi penculikan/penyekapan/kekerasan. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Kepolisian RI Inspektur Jenderal Boy Rafli Amar mengatakan pihaknya bekerja sama dengan kepolisian Malaysia untuk menangkap enam warga negara Indonesia yang diduga terlibat dalam penculikan warga negara Malaysia bernama Ling Ling. Penangkapan itu dilakukan setelah polisi menangkap enam warga Malaysia yang diduga terlibat perampokan dan penculikan terhadap Ling Ling.

    Boy menuturkan enam WNI itu ditangkap Senin, 20 Maret 2017, pukul 05.15 di Desa Tamiyah, Kecamatan Batu Aji, Batam. Saat penangkapan, polisi juga mengamankan Ling Ling.

    "Penyidik di Malaysia menginformasikan ke Bareskrim, lalu kami bentuk satgas, ternyata mengindikasikan pula adanya keterlibatan WNI soal penculikan," ucap Boy di kantornya, Senin.

    Enam WNI yang ditangkap adalah Puncahyadi, Saleh, Antanassius, David, Hartadi, dan Baltasar. Boy berujar enam orang tersebut hingga kini masih diperiksa. Sementara itu, Ling Ling diserahkan ke kepolisian Malaysia hari ini untuk bertemu dengan keluarganya di Johor, Malaysia.

    Menurut Boy, penculikan tersebut dilakukan sejak 21 Februari 2016. Ling Ling diculik di Johor, Malaysia. Selanjutnya, Ling Ling berada di bawah penjagaan enam warga negara Malaysia sebelum dibawa ke Batam.

    Saat ditemukan, Ling Ling dalam kondisi baik. Meskipun begitu, dia tetap mendapatkan pemeriksaan kesehatan sebelum diserahkan kepada kepolisian Malaysia.

    Kepolisian RI bersama kepolisian Malaysia saat ini masih memburu pelaku utama kasus penculikan ini. Diduga, pelaku utamanya adalah Wak Lan. "Otak penculikannya warga Malaysia bernama Wak Lan," kata Boy.

    DANANG FIRMANTO



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.