Barisan Pemuda Adat Dorong Pendirian Sekolah Adat di Nusantara

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Diskusi pada Kongres Masyarakat Adat Nusantara V di Medan, Sumatera Utara, Rabu, 15 Maret 2017. Tempo/Danang F.

    Diskusi pada Kongres Masyarakat Adat Nusantara V di Medan, Sumatera Utara, Rabu, 15 Maret 2017. Tempo/Danang F.

    TEMPO.CO, Medan - Ketua Umum Barisan Pemuda Adat Nusantara Jhontoni Tarihoran menilai sekolah adat penting didirikan di setiap wilayah adat nusantara. Menurut dia, keberadaan sekolah adat akan mampu menjaga jati diri masyarakat adat.

    “Yang penting bagaimana bangga sebagai masyarakat adat dengan pengetahuan,” kata Jhontoni pada rangkaian kegiatan Kongres Masyarakat Adat Nusantara di Medan, Kamis, 16 Maret 2017.

    Baca: Perlu Peta Masyarakat Adat di Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

    Menurut Jhontoni keberadaan sekolah adat  juga bisa menciptakan keberlanjutan hidup masyarakat adat setempat. Misalnya dengan mengajarkan pengetahuan mengenai pertanian, pengolahan kerajinan, hingga pelestarian budaya. Namun saat ini kondisi masyarakat adat mulai tergeser oleh modernisasi.

    Namun, ucap dia, modernisasi  tidak bisa dihalang-halangi, termasuk oleh masyarakat di wilayah adat. Masyarakat adat, ujar dia, harus dapat menerima pembaruan tersebut. Namun, harus ada upaya untuk menjaga dan melestarikan adat di setiap wilayah. “Bagaimana masyarakat adat mempersiapkan diri dengan pendidikan, semacam belajar dari masa lalu untuk mempersiapkan masa depan,” kata dia.

    Simak: Ketua MPR Dukung Masyarakat Hukum Adat

    Dewan Pemuda Adat Nusantara region Kalimantan  Modesta Wisa menambahkan, saat ini sudah ada contoh sekolah adat di wilayah Bukit Samabue, Kalimantan Barat. Menurut dia sekolah adat Samabue berdiri sejak setahun tahun dengan jumlah murid 120 orang.

    Wisa mengatakan sekolah adat penting untuk menanamkan cara bagaimana menjaga wilayah adat dan melestarikannya. Ia mencontohkan sekolah adat Samabue yang memiliki konsep pendidikan tanpa mengenal ruang. Artinya, para siswa dengan usia 5-15 tahun bisa belajar pertanian, pengetahuan makanan-makanan tradisional, sejarah kampung adat, kerajinan, dan permainan tradisional.

    Lihat: Tiga Daerah Ini Kelola Laut Pakai Kearifan Lokal

    Wisa berujar kegiatan sekolah adat hanya berlangsung  tiga kali dalam sepekan, sehingga tidak mengganggu sekolah formal. Kegiatan sekolah adat dilakukan setiap sore dengan menyesuaikan kondisi masyarakat adat di Bukit Samabue. Sedangkan indikator keberhasilan dari sekolah itu adalah siswa mampu menerapkan pengetahuan yang diajarkan.

    DANANG FIRMANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 1.087 Fintech P2P Lending Dihentikan sejak 2018 hingga 2019

    Ketua Satgas Waspada Investasi, Tongam L. Tobing mengatakan dari 2018 hingga 2019, sebanyak 1.087 entitas fintech P2P lending ilegal telah dihentikan.