Terungkap, Atut Minta Pejabatnya Teken Surat Loyalitas Ini  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Atut Chosiyah mendengarkan keterangan saksi dalam sidang dugaan korupsi pengadaan alat kesehatan RS di Banten di Pengadilan Tipikor, 15 Maret 2017. Adanya surat loyalitas itu diungkap oleh  mantan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten, Djadja Buddy Suhardja. TEMPO/Maria Fransisca (magang)

    Atut Chosiyah mendengarkan keterangan saksi dalam sidang dugaan korupsi pengadaan alat kesehatan RS di Banten di Pengadilan Tipikor, 15 Maret 2017. Adanya surat loyalitas itu diungkap oleh mantan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten, Djadja Buddy Suhardja. TEMPO/Maria Fransisca (magang)

    TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah disebut kerap meminta para pejabat pemerintah Provinsi Banten untuk berkomitmen dan patuh terhadap perintahnya dan adiknya, Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan, Komisaris PT Bali Pacific Pragama. Salah satu yang diminta loyal adalah Kepala Dinas Kesehatan Banten Djaja Buddy Suhardja.

    Ketika bersaksi dalam sidang dugaan korupsi pengadaan alat kesehatan Rumah Sakit Rujukan di Pemerintah Provinsi Banten, Djaja mengatakan dia pernah dipanggil oleh Wawan sebelum dilantik menjadi Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten. "Saya dipanggil Pak Wawan ke Hotel Kartika Chandra, Jakarta, pada 12 Februari 2006," kata dia di hadapan majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Rabu, 15 Maret 2017.

    Baca: Korupsi Alkes Atut, Saksi Sebut Rano Karno Terima Rp 700 Juta  

    Selain Djaja, pada saat itu ia dipanggil bersama dengan beberapa orang lainnya. "Ada Dadang dari perencanaan dinas provinsi, ada Nasir Aziz, ada Pak Erwin," katanya.

    Pada pertemuan itu, Djaja menjelaskan, Wawan bertanya asal pekerjaannya. Kemudian Wawan menanyakan apakah dia siap menjadi Kepala Dinas Provinsi. "Saya jawab kalau saya siap aja. Selanjutnya dicatat di dalam HP Pak Wawan nama saya," ujar dia.

    Setelah itu, Wawan meminta Djaja pergi ke kamar hotel di lantai 6 untuk tanda tangan surat pernyataan yang telah disiapkan. Seingat Djaja, surat pernyataan itu berisi komitmen untuk loyal, patuh, dan taat terhadap perintah Atut dan Wawan. "Saya tanda tangani. Saya pikirnya itu adalah perintah Ibu Gubernur," kata dia. Djaj kemudian dilantik sebagai Kepala Dinas Kesehatan Provinsi banten pada 17 Februari 2006.

    Baca juga: Sidang Korupsi Alkes, Jaksa Dakwa Atut Peras Pejabat Rp 500 Juta

    Pada persidangan Rabu, 15 Maret 2017, jaksa penuntut umum KPK menayangkan surat pernyataan loyal Djaja tersebut. Berikut surat pernyataan loyalitas yang ditandatangani Djaja:

    Kepada Yth Gubernur Banten
    Ibu Hj Ratu Atut Chosiyah
    di Serang

    Sifat: rahasia
    Perihal: pernyataan

    Bismillahirohmanirohim
    Dengan seraya memohon keridhoan Allah SWT, maka saya yang bertanda tangan di bawah ini:
    Nama: Dr Djaja Buddy SS, MPH
    NIP: 140 150 112
    Pangkat: Pembina Utama Muda/IV C
    Jabatan: Kepala Dinas Kesehatan dan Kessoss Kabupaten Lebak

    Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa:

    1. Apabila saya diangkat oleh Gubernur Banten, Ibu Hj Ratu Atut Chosiyah menjadi Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten, maka saya selaku pembantu gubernur, siap dan akan melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya, baik tugas-tugas formal maupun tugas-tugas informal.

    2. Sebagai wujud loyalitas saya kepada atasan yaitu Gubernur Banten itu Hj Ratu Atut Chosiyah yang akan mencalokan kembali menjadi Gubernur Banten periode 2006-2011, maka saya selaku bawahan siap dan akan mendukung/melaksanakan secara sungguh-sungguh langkah-langkah ke arah tercapainya/terpilihnya secara mutlak Ibu Hj Ratu Atut Chosiyah sebagai Gubernur Banten periode 2006-2011

    3. Untuk mewujudkan kemenangan mutlak bagi Gubernur Banten Ibu Hj Ratu Atut CHosiyah menjadi Gubernur Banten terpilih periode 2006-2011 maka saya selaku pembantu gubernur, siap dan senantiasa bekerja sama secara sinergis dengan segenap komponen kekuatan yang mendukung terpilihnya Gubernur Banten Ibu Hj Ratu Atut Chosiyah

    Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya dalam keadaan sehat jasmani dan rohani, tanpa ada tekanan dan paksaan dari mana pun.

    Pada dugaan korupsi pengadaan alat kesehatan Rumah Sakit Rujukan di Pemerintah Provinsi Banten, Atut didakwa memperkaya diri sendiri dan orang lain sehingga merugikan negara sebesar Rp 79 miliar. Atut juga didakwa memeras anak buahnya sebesar Rp 500 juta, terdiri atas uang dari Djaja Buddy Suhardja sebesar Rp100 juta, Iing Suwargi Rp 125 juta, Sutadi Rp 125 juta, serta Hudaya Latuconsina sebesar Rp 150 juta untuk menggelar istighosah (pengajian).

    MAYA AYU PUSPITASARI

    Video Terkait:
    Dana Ratusan Juta Pejabat Banten Untuk Istigosah Ratu Atut
    Rano Karno Disebut Terima Aliran Dana Korupsi Alat Kesehatan Dalam Dakwaan Ratu Atut


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Manfaat dan Dampak Pemangkasan Eselon yang Dicetuskan Jokowi

    Jokowi ingin empat level eselon dijadikan dua level saja. Level yang hilang diganti menjadi jabatan fungsional.