Aksi Klithih, Polisi Tangkap Tujuh Remaja  

Reporter

Ilustrasi pembunuhan menggunakan senjata tajam. Tempo/Indra Fauzi

TEMPO.CO, Yogyakarta - Polisi menangkap tujuh remaja yang diduga melakukan aksi klithih yang mengakibatkan seorang pelajar tewas karena senjata tajam. Dua orang masih dikejar karena ikut aksi tindak kriminalitas di kalangan remaja dan pelajar Daerah Istimewa Yogyakarta. 

Meskipun mereka di bawah umur, pasal yang dikenakan seperti orang dewasa karena penganiayaan mengakibatkan korban meninggal. Lagi pula, ancaman hukumannya lebih dari tujuh tahun.

"Kurang dari dua hari polisi bisa menangkap pelaku," kata Kapolda Daerah Istimewa Yogyakarta Brigadir Jenderal Ahmad Dofiri, Selasa, 14 Maret 2017.

Baca juga:
Aksi Klithih Coreng Yogya sebagai Kota Pelajar

Para remaja itu telah ditetapkan sebagai tersangka atas penganiayaan terhadap siswa Sekolah Menengah Pertama Piri, Ilham Bayu Fajar. Aksi klithih itu terjadi Minggu dinihari, 12 Maret 2017.

Para pelaku masih remaja, yaitu siswa SMP dan satu orang pelajar sekolah menengah atas. Mereka dikenai pasal pidana seperti orang dewasa. "Kalau ancaman hukumannya itu lebih dari tujuh tahun, mereka tetap dikenakan ketentuan pasal pidana," kata dia.

Baca pula:
DI Yogyakarta Didesak Alokasikan Anggaran Tangani Aksi Klithih

Ketentuannya, kata dia, polisi boleh menangkap dan boleh menahan. Tidak ada kata damai jika korban sampai meninggal. Meskipun kasus sebelumnya seperti di Bantul, pelakunya sudah divonis, tidak membuat takut yang lainnya untuk melakukan aksi klithih, tindak kriminalitas yang dilakukan remaja. Pasal yang dikenakan adalah Pasal 338 dan Pasal 354 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, penganiayaan yang mengakibatkan orang lain meninggal.

Ia menjelaskan, para pelaku yang masih remaja itu rata-rata berlatar belakang keluarga kurang harmonis dan jauh dari pengawasan orang tua. Ada orang tua yang sudah bercerai dan atau tinggal di keluarga lain.

"Razia dari kepolisian setiap hari. Tetapi yang lebih penting adalah kerja sama dengan yang lain seperti sekolah, pemerintah daerah, dan lebih penting lagi kepada orang tua untuk memberikan pengawasan lebih kepada anak-anak. Mosok tengah malam pelajar keluyuran, ini tidak wajar bagi anak usia pelajar," kata Dofiri.

Sekolah, kata dia, juga harus bisa mengidentifikasi anak yang terindikasi, seperti malas-malasan dan bolos sekolah. Karena ada tindakan yang mengarah ke aksi klithih.

Selain itu, ujar dia, sejak awal pergi dari rumah, para pelaku klithih sudah membawa senjata tajam berupa celurit dua buah dan parang dua buah serta dua sabuk gir. Mereka sudah menyiapkan sejak awal. Saat berpapasan dengan pelajar lain dan mengeluarkan kata-kata tidak sopan, saat itulah senjata itu digunakan.

Mereka tidak saling mengenal. Saat itu, korban mengatakan bajingan saat berpapasan dengan pelaku. Tidak terima, pelaku mengejar dan langsung menyabetkan senjata tajam itu ke arah dada. "Semua ditangkap di rumah masing-masing," kata dia.

Para pelaku bukan dari satu sekolah, ada yang SMP, SMA, dan ada yang home schooling. Mereka berkumpul karena kenalan, ada yang kakaknya adalah temannya dan lain-lain.

Aksi klithih dilakukan pelajar karena ada yang membuat geng, ada yang hanya teman kenalan. Dofiri menyatakan mereka berpikir jika usia mereka masih di bawah umur dan melakukan tindak pidana, akan dibebaskan polisi. "Ini keliru," kata dia.

Dari kasus-kasus yang terjadi, para senior pelajar klithih lah yang justru menyuruh untuk melakukan. Asumsinya, jika mereka di bawah 17 tahun tidak akan diproses hukum. "Indikasi keterlibatan dari para senior atau alumni sangat kental, memberikan doktrin kepada adik-adiknya," kata dia.

Para pelajar yang ditangkap itu adalah Faizal Fardan (FF), pelajar kelas X SMA Budiluhur, Yogyakarta. Ia diduga yang melakukan penusukan kepada korban. Lalu ada Aldi Azzaki, pelajar home schooling, yang membonceng pelaku. Kemudian Tegar Pratama, siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah Banguntapan; dan Jalu Rizky, pelajar satu sekolah dengan Tegar, ia membawa celurit.

Pelajar yang ditangkap lainnya adalah Muhamad Kemal, pelajar home shcooling; Ridho Basuki Juniarto, dan Novian Surya Persada, 21 tahun, warga Mergangsan, Yogyakarta. 

Menurut Kepala Kepolisian Resor Kota Yogyakarta Komisaris Besar Tommy Wibisono, ancaman hukuman tersangka adalah 15 tahun penjara. Ia menegaskan tidak mau lagi ada aksi klithih di Yogyakarta. "Jika masih terjadi, kami tidak segan-segan menindak. Ini demi keamanan masyarakat," katanya.

MUH SYAIFULLAH  

Simak:
Kasus E-KTP, Eks Ketua Mahkamah Konstitusi: Jika Benar, Sejarah Hitam Bangsa Ini






Yogyakarta Lacak Lagi Bangunan Cagar Budaya Kotagede yang Tertinggal

4 hari lalu

Yogyakarta Lacak Lagi Bangunan Cagar Budaya Kotagede yang Tertinggal

Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta pada Januari 2023 ini memetakan lagi kawasan sejarah Kotagede demi melacak sejumlah bangunan yang sebenarnya masuk kategori cagar budaya namun belum sempat ditetapkan.


Komunitas Driver Online Depok Ingin Polisi Segera Ungkap Pembunuh Tony RizaL Taihitu

7 hari lalu

Komunitas Driver Online Depok Ingin Polisi Segera Ungkap Pembunuh Tony RizaL Taihitu

Driver online Depok Online Bersatu (DOB) mendesak aparat penegak hukum segera mengungkap kasus pembunuhan Tony Rizal Taihitu di Bukit Cengkeh, Depok.


Kota Yogyakarta Larang Skuter Listrik Beroperasi di Jalan Raya dan Trotoar

25 hari lalu

Kota Yogyakarta Larang Skuter Listrik Beroperasi di Jalan Raya dan Trotoar

Skuter listrik atau otoped dilarang dioperasikan di jalan raya, trotoar maupun kawasan pedestrian atau pejalan kaki di Kota Yogyakarta.


Kasus Kriminalitas di Jakarta Tinggi, Heru Budi Hartono Belum Terpikir Ikuti Janji Ahok

26 hari lalu

Kasus Kriminalitas di Jakarta Tinggi, Heru Budi Hartono Belum Terpikir Ikuti Janji Ahok

Heru Budi juga mengimbau warga Jakarta untuk menghindari pulang subuh karena banyak kasus kriminalitas jalanan terjadi pada saat dinihari.


Berkaca dari Kasus Penculikan Anak di Gunung Sahari, PSI Minta DKI Perbanyak CCTV

26 hari lalu

Berkaca dari Kasus Penculikan Anak di Gunung Sahari, PSI Minta DKI Perbanyak CCTV

Fraksi PSI DPRD DKI meminta pemerintah DKI menambah kamera pengawas CCTV. PSI berkaca dari kasus penculikan anak, MA, di Gunung Sahari, Jakarta Pusat.


Kriminalitas di Kota Tangerang Meningkat 11 Persen pada 2022, Curanmor Menggila

31 hari lalu

Kriminalitas di Kota Tangerang Meningkat 11 Persen pada 2022, Curanmor Menggila

Menurut Polres Metro Tangerang Kota penyelesaian kasus kriminalitas meningkat 132 persen di Kota Tangerang dibandingkan 2021.


Penduduk Kota Yogyakarta Hampir 100 Persen Terlindungi JKN

31 hari lalu

Penduduk Kota Yogyakarta Hampir 100 Persen Terlindungi JKN

Kota Yogyakarta berhasil mempertahankan UHC selama enam tahun


Ini Sederet Acara di 5 Kabupaten dan Kota di Yogyakarta Saat Malam Tahun Baru

32 hari lalu

Ini Sederet Acara di 5 Kabupaten dan Kota di Yogyakarta Saat Malam Tahun Baru

Berdasarkan catatan Polda DIY ada belasan acara akan digelar di malam tahun baru di 5 daerah di Daerah Istimewa Yogyakarta.


Warga Yogya Berlipat Saat Libur Nataru, Begini Cara Pemerintah Tekan Potensi Kriminalitas Jalanan

40 hari lalu

Warga Yogya Berlipat Saat Libur Nataru, Begini Cara Pemerintah Tekan Potensi Kriminalitas Jalanan

Pemerintah Kota Yogyakarta sudah menyiapkan strategi khusus untuk menekan angka kriminalitas selama libur Nataru.


Waspadai Tarif Parkir Nuthuk Saat Libur Nataru, Ini Tarif Resmi Di Kota Yogyakarta

41 hari lalu

Waspadai Tarif Parkir Nuthuk Saat Libur Nataru, Ini Tarif Resmi Di Kota Yogyakarta

Rincian aturan tarif parkir yang diatur dalam beleid itu antara lain untuk kendaraan bermotor roda dua, dikenakan tarif parkir Rp 2 ribu.