Tiga Pekan Koma, TKI Asal Bengkulu Meninggal di Abu Dhabi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Tenaga Kerja Indonesia (TKI). TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    Ilustrasi Tenaga Kerja Indonesia (TKI). TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    TEMPO.COBengkulu - Memasuki pekan ketiga koma di Rumah Sakit Abu Dhabi, tenaga kerja Indonesia asal Desa Sidodadi, Kecamatan Pondok Kelapa, Kabupaten Bengkulu Tengah, Provinsi Bengkulu, Yamsiah, 45 tahun, akhirnya meninggal dunia.

    Hal ini membawa duka mendalam bagi keluarga dan anak-anaknya karena tidak sempat berjumpa dengan sang ibu untuk terakhir kalinya. "Kami baru dapat kabar kemarin, berharap jenazah ibu kami bisa dipulangkan dan dimakamkan di sini," kata Ikwal Setya, putra sulung Yamsiah, saat dihubungi, Selasa, 14 Maret 2017.

    Baca: BPJS Ketenagakerjaan Siap Lindungi TKI di Luar Negeri

    Yamsiah mengalami pecah pembuluh darah di kepala akibat menderita penyakit darah tinggi yang telah lama dideritanya.

    Laporan Investigasi di Majalah Tempo 20-26 Maret 2017 tentang perdagangan manusia melaporkan jaringan serta modus yang digunakan para pelaku perdagangan manusia menjebak korbannya, khususnya TKI dari Nusa Tenggara Timur. Jika jumlah TKI legal di Malaysia mencapai 1,2 juta orang. Jumlah TKI ilegal diperkirakan dua kali lebih besar. Mereka kerap tak memperoleh haknya, bahkan terkadang disiksa atau dibunuh

    Infografik: Berdagang Orang ke Malaysia

    Menurut Ikwal, dari informasi pihak Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI), ibunya meninggal pada Sabtu, 11 Maret 2017, pukul 18.37 waktu Abu Dhabi. Adapun pihak keluarga baru dapat kabar Senin siang, 13 Maret 2017.

    Ikwal mengatakan pihak keluarga telah menyampaikan permintaan kepada pemerintah dan PJTKI untuk memulangkan jenazah sang ibu yang telah merantau selama 2 tahun di Abu Dhabi.

    Investigasi: Jaringan 'Mafia' Penjual Manusia

    Namun, hingga saat ini, pihak keluarga belum mendapatkan kepastian kapan jenazah sang ibu dipulangkan. "Semua kami serahkan kepada KBRI di sana. Harapannya, pemulangan dapat dilakukan sesegera mungkin," kata Ikwal.

    Simak juga: Terumbu Karang Raja Ampat Rusak, Pemilik Kapal Harus Ganti Rugi

    Sebelumnya, pihak keluarga meminta bantuan pemerintah untuk memulangkan Yamsiah karena tidak ada yang merawat selama di Abu Dhabi. 

    PHESI ESTER JULIKAWATI

    Video Terkait:
    Investigasi Majalah Tempo: Perdagangan Manusia ke Malaysia
    Korban Perdagangan Manusia, 8 TKI Brebes Diselundupkan Lewat Laut


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.