Gara-gara Hoax Penculik Anak, Gelandangan Dikeroyok di Pantura

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi hacker/sosial media/Facebook. REUTERS/Dado Ruvic

    Ilustrasi hacker/sosial media/Facebook. REUTERS/Dado Ruvic

    TEMPO.CO, Brebes - Kabar soal penculikan dengan modus pura-pura gila sedang menjadi perbincangan hangat di media sosial Facebook. Informasi yang belum terjamin kebenarannya tersebut membuat resah masyarakat, terutama orang tua di sejumlah daerah seperti Brebes, Tegal, dan Pemalang. Mereka khawatir anaknya menjadi korban penculikan.

    Bahkan, saking resahnya, semua orang asing yang berpenampilan seperti gelandangan, yang masuk di perkampungan dicurigai sebagai penculik. Mereka menangkap dan menghakimi orang asing tersebut lalu membawanya ke kantor polisi. Bahkan, ada yang sampai babak belur karena dipukuli dan dikeroyok. Peristiwa semacam itu bukan hanya terjadi satu dua kali saja. Tetapi lebih dari lima kali.

    Catatan Tempo, dalam sepekan terakhir ini, setidaknya ada tujuh kasus penangkapan gelandangan dan pemuda lantaran dituding sebagai penculik di Brebes, Tegal, dan Pemalang.

    Baca juga: Menteri Khofifah: Pak Hasyim Muzadi Hanya Perlu Istirahat

    Pekan lalu, Jumat, 3 Maret 2017, seorang perempuan paruh baya ditangkap warga dan nyaris dipukuli di Kelurahan Pasarbatang, Brebes. Pada hari yang sama juga terjadi di Kelurahan Tegalsari, Kota Tegal. Seorang perempuan yang diduga mengalami gangguan jiwa hampir jadi bulan-bulanan warga setempat. Perlakuan yang sama juga dialami dua perempuan yang berpenampilan seperti gelandangan di Desa Kubangjati, Kecamatan Ketanggungan dan Kecamatan Tanjung. Beruntung, polisi segera mengamankan perempuan tersebut.

    Dua hari sebelumnya, Rabu, 1 Maret 2017, seorang pemuda di Desa Kluwut, Kecamatan Bulakamba, Brebes juga nyaris tewas dihajar massa. Saat itu pemuda bernama Hadi Muslikhin, 19 tahun, yang sedang beritirahat ditangkap, diarak, dan dibawa ke balaidesa. Belakangan, pemuda asal Kecamatan Siwalan, Kabupaten Pekalongan tersebut ternyata seorang pencari kerja, yang baru diturunkan dari bus karena kehabisan ongkos.

    Hal yang sama juga terjadi di Kecamatan Petarukan pemalang, Kamis, 9 Maret 2017. Seorang pemuda berusia 23 tahun, nyaris dimassa gara-gara diteriaki penculik. Dia yang sedang berjalan di perkampungan di Desa Kalirandu, Kecamatan Petarukan ditangkap ramai-ramai dan dibawa ke Kantor Polsek setempat. Beruntung, pemuda asal Desa Kabunan Kecamatan Taman tersebut selamat dari amukan warga meski ratusan massa sudah mengerumuninya. “Korban langsung diserahkan ke orang tua,” kata Humas Polres Pemalang, AKP Lies.

    Korban salah sasaran yang paling parah dialami oleh gelandangan di Desa Tegalreja, Kecamatan Banjarharjo, Brebes. Dia harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit karena mengalami luka yang cukup parah di kepala dan kaki. Gelandangan itu adalah Oyo Mulya, warga Kuningan, Jawa Barat, yang dikeroyok warga setempat Selasa 7 Maret 2017.

    Baca juga: Kiai Muda NU Perbolehkan Pilih Pemimpin Non-Muslim

    Lelaki berusia 50 tahun ini nyaris tewas karena jadi bulan-bulanan warga setelah diteriaki sebagai penculik. Bahkan tubuh rentanya diarak keliling kampung. Kakinya digantung dengan kepala di bawah dengan sepotong bambu layaknya binatang hasil buruan. “Ya diarak warga, sebelum akhirnya diamankan pihak kepolisian,” kata Kepala Desa setempat, Mansyur Ibrahim, membenarkan.

    Kepolisian menyatakan isu penculikan dengan modus pura-pura gila itu adalah hoax atau palsu. Kepala Kepolisian Resor Brebes, Ajun Komisaris Besar Luthfie Sulistiawan mengatakan polisi hingga kini belum menerima laporan adanya penculikan anak. Dia mengimbau kepada masyarakat khususnya para orang tua tidak berlebihan menyikapi isu ini. “Waspada boleh tapi jangan berlebihan,” ujar dia. Polisi pun mengusut kasus ini. Menurut Luthfie, pihaknya sedang memburu penyebar isu hoax tentang penculikan di media sosial Facebook.

    MUHAMMAD IRSYAM FAIZ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.