Ajang Car Free Day Mataram, Ratusan Pelajar Deklarasi Anti Rokok  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ratusan pelajar berkampanye menolak menjadi target iklan rokok di depan Istana Presiden, Sabtu, 25 Februari 2017. TEMPO/Danang Firmanto

    Ratusan pelajar berkampanye menolak menjadi target iklan rokok di depan Istana Presiden, Sabtu, 25 Februari 2017. TEMPO/Danang Firmanto

    TEMPO.CO, Mataram - Ahad 12 Maret 2017 pagi ini, sejak pukul 6 Waktu Indonesia Tengah berada di area Car Free Day Jalan Udayana di Mataram, Yayasan Gagas bersama lebih dari 250 pelajar mewakili 30 sekolah dari Kota Mataram berkumpul di Plaza Taman Udayana Mataram dalam aksi #TolakJadiTarget untuk mendeklarasikan diri bahwa mereka menolak menjadi target industri rokok.

    Para pelajar juga menampilkan aksi teatrikal dengan tema “Serigala Berbulu Domba”. Teatrikal ini menceritakan bagaimana cara perusahaan rokok dalam menargetkan anak dengan meletakkan iklan di sekitar sekolah, menarik mereka dengan iming-iming beasiswa, kegiatan seni, dan olahraga.

    Baca : Perusahaan Rokok Sponsori Film Galih dan Ratna, Pemuda Ini Protes

    Di bagian akhir teatrikal, bercerita tentang bagaimana para pelajar menyadari bahwa mereka adalah target perusahaan rokok dan meyatakan diri melawan serta menolak menjadi target perusahaan rokok.

    Dalam kesempatan ini pula, para pelajar Kota Mataram menyatakan dukungannya kepada Pemerintah Kota Mataram untuk mewujudkan Kota Mataram sebagai Kota Layak Anak (KLA).

    Menurut ketua Yayasan Gagas Azhar Zaini, bukan suatu kebetulan jika iklan rokok banyak ditemui di sekitar sekolah. Anak-anak terpapar iklan rokok setiap hari, saat pergi dan pulang sekolah selama 12 tahun masa sekolah. Semakin sering anak terpapar iklan rokok akan menciptakan kesan bahwa rokok adalah sesuatu yang baik dan biasa. ‘’Sehingga mendorong anak untuk mencoba merokok,’’ kata Azhar Zaini.

    Hasil studi Komnas Perlindungan Anak dan Universitas Muhammadiyah Prof.Dr HAMKA Jakarta tahun 2007 menyatakan sebanyak 46,3 persen anak mengaku terpengaruh merokok karena melihat iklan rokok dan 86,7 persen anak mengaku melihat rokok di media luar ruang.

    Simak : Gara-gara Rokok, Klaim BJS Kesehatan Membengkak

    Sejak Desember 2016 lalu, pelajar dari 90 sekolah di 5 kota (Padang, Mataram, Bekasi, Tangerang Selatan dan Kabupaten Bogor) berhasil menurunkan ratusan spanduk, poster dan iklan rokok yang ada di sekitar sekolah mereka. Ini adalah cara pelajar menolak dijadikan target pemasaran perusahaan rokok. Mereka bergerak bersama dalam kampanye #TolakJadiTarget.

    Kampanye #TolakJadiTarget yang dilakukan pelajar mendapat dukungan dari pihak sekolah, orang tua siswa, masyarakat sekitar sekolah, RT/RW, lurah, camat hingga Walikota. Hingga saat ini, pelajar di 5 kota berhasil menurunkan 120 iklan rokok di sekolahnya.

    Aksi penurunan iklan rokok ini masih akan terus berlanjut di 5 kota, semoga diikuti oleh sekolah-sekolah di tempat lain. M. Kaisar Melga Janarsyah, pelajar kelas XI MAN 2 Mataram dan Pajrul Furqan Haikal, pelajar kelas XI SMKN 2 Mataram yang ikut dalam aksi hari ini meminta Pemerintah melindungi mereka dari target industri rokok. “Perusahaan rokok juga harus berhenti beriklan di sekitar sekolah kami” pintanya.

    SUPRIYANTHO KHAFID
    Baca juga : Kasus E-KTP, Miryam S Haryani: Saya Hormati Proses Hukum


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.